Pertama kali saya mengunjungi Pakistan pada tahun 1998 saat itu Pakistan dipimpin oleh Perdana menteri Nawaz Sharif.
Sebenarnya saya sudah di wanti wanti oleh teman teman, bahwa Pakistan adalah Negara kategory Rawan bagi kami Travellers.
Tetapi karena rayuan dan Bujukan dari Atasan saya yang nota bene sering membantu saya kalau dalam kesulitan, serta Jiwa Petualang saya yang haus akan tantangan membuat saya mengiyakan tugas tersebut.
Saya berpikir, kalau memang Ajal di mana saja kita akan Mati juga….tentunya kita harus hati hati.
Penerbangan saya dari Gothenborg Swedia ke Frankfurt Germany dengan Skandinavia Airlines.
Oh ya, pada waktu itu saya ada di Gothenborg Swedia urusan Bisnis, tetapi karena keperluan mendadak yang mungkin kurang perlu saya paparkan disini, diperlukan seorang yang dapat segera berangkat ke Karachi Pakistan.
Saking terburu burunya, ticketpun hanya saya dapatkan di Airport, pada saat itu belum ada Electronic Ticket, bahkan belum ada Internet, atau belum populer.
Setelah Transit di Frankfurt, lagi lagi saya harus mencari Ticket di kantor Agency TQ3, sebuah biro perjalanan cukup terkenal di Frankfurt, saya melanjutkan penerbangan ke Karachi dengan Lufthansa Air lines.
Penerbangan malam hari itu tak beda dengan penerbangan penerbangan saya lainnya, tak ada yang istimewa, kami mendarat pagi harinya sekitar pukul delapan pagi.
Masalah timbul ketika saya melalui meja Immigrasi.
Seperti biasa saya berusaha mengantri teratur di belakang orang yang lebih dahulu di depan, karena saya duduk di kelas Bisnis, saya keluar dari pesawat duluan sehingga belum begitu banyak orang yang mengantri.
Ketika orang semakin banyak dan ahirnya semua orang ada di ruang Immigrasi itu, ternyata orang Pakistan tak biasa ngantri, mereka berusaha mendesak, mendorong sebisanya agar maju kedepan terlebih dahulu, sehingga membuat saya semakin tertinggal di belakang, bingung tak mengerti.
Setelah beberapa lama dengan tubuh yang penuh keringat, karena saya datang dari Gothenborg yang suhunya minus 15 sampai minus 20 derajat celcius, sedangkan Pakistan tengah hari bisa mencapai plus 50 derajat celcius, saya berhasil mencapai meja kontrol Immigrasi.
Saya menyerahkan Pasport saya, Petugas Immigrasi menerimanya dengan senyum yang sangat Ramah, beberapa saat dia membolak balik Pasport saya, kemudian mengembalikannya tanpa komentar apa apa.
Lantas saya bertanya dalam bahasa Inggris, apakah ada masalah dengan Pasport saya..?, Dia menjawab No English, No English.
Saya berpikir, koq bisa bisanya petugas Immigrasi yang nota bene melayani Internasional Flight, tidak bisa berbahasa Inggris…?!
Saya disuruh berdiri agak kesamping dengan isyarat tangan yang dikibas kibaskan, mengisyaratkan agar saya menepi.
Saya hanya bisa berdiri melongo….bingung tak tau melakukan apa apa, sementara orang terus melewati pintu tempat saya berdiri seolah olah saya tak ada disana.
Setelah beberapa menit lamanya saya bertanya lagi dengan bahasa Inggris, soalnya saya sama sekali tidak mengerti bahasa Urdu, bahasa nasionalnya Pakistan, jawabnya tetap sama …No English, No English….
Ahirnya saya katakan kepadanya apakah saya boleh pindah melalui meja lainnya..? sambil memberi isyarat dengan menunjuk nunjuk meja pemeriksaan sebelahnya, tetap dijawab No English, No English.
Tanpa menunggu saya ngantri lagi di jalur yang menuju meja pemeriksaan disebelahnya, sampai saya mencapai meja.
Kembali saya menyerahkan Pasport saya, Dia membolak baliknya agak lama, kemudian mengembalikan Pasport saya kembali tanpa komentar…..saya Protest, apa masalahnya koq Pasport saya selalu dikembalikan tanpa alasan….sementara orang orang sudah hampir habis dari ruangan, jawabnya…No English, No English…..
Saya benar benar kehabisan akal dan frustrasi…khawatir jangan jangan Koper pakaian dan perlengkapan saya akan diambil orang, karena untuk menuju Bagage Claims harus melalui Immigrasi dulu.
Saya sudah menghabiskan waktu selama hampir satu jam lamanya di Immigrsi ini.
Saya mundur dari meja dan merenung….kata kata teman saya, agar jangan mau pergi ke Pakistan.
Tiba tiba saya teringat, saya berkata pada diri sendiri…Kamu kan BATAK….Banyak Tak tik…..pikir dong……
Lalu saya kembali teringat akan Indonesia…Sogok menyogok kan seharusnya saya ahlinya…..dari Indonesia,
Saya mencari di dompet note paling kecil adalah dua puluh dollar Amerika, lalu saya selipkan ditengah tengah Pasport, saya kembali ke meja pertama yang mengatakan No English, petugasnya masih orang yang sama.
Saya menyerahkan Pasport, Dia menerima dan menurunkan Pasport kemudian membuka dan mengambil lembaran dollar sambil melirik kepada saya.
“Ahaa……Mr.Michael…Welcome to Pakistan…Have a Nice Day..Sir…” Dia berkata dengan bahasa Inggris yang lancar.
Dalam hati saya berkata “cepat amat ya belajarnya….baru beberapa menit yang lalu dia bilang No English…”.
Ha ha ha, hebat betul Lae ini. Dia bisa belajar bahasa Inggris dari US $ Lae itu, kan disana tulisannya dalam Bahasa Inggris.
Kembali dalam masalah mentalitas dan budaya korup pada para pegawai pemerintahan. Imigrasi harusnya sebagai garda depan dalam pelayanan kepada Orang Asing, kualitas layanan dan profesionalisme dari mereka dituntut dengan baik.
Di Indonesia juga Direktorat ini terus berbenah dan harus adanya fungsi kontrol dari masyarakat terhadap mereka. Banyak kasus dan pengaduan dari masyarakat hanya sampai pada tahapan “Mereka dan Tuhan saja yang Tau”,
Ok Lae kayaknya aku pertamax ini. Horas
michael:terima kasih atas kunjungannya….BTW Blog Lae saya pasang Linknya disini ya…..
Sebelum ada uang matanya kabur, dia baca ‘Mekkel’ tentu saja no englis. Setelah teori ‘pat ni manuk angka rengreng, marrara mata marnida hepeng’ lae lakukan, bacaannya menjadi jelas ‘Michael’
Michael:Betul sekali Lae….makanya kalau ada teman yang akan ke Pakistan….sediakan uang US dollar atau Euro dalam pecahan kecil…supaya nggak bermasalah di Immigrasi.
Mudah2an pihak imigrasi sana baca tulisan Appara dan semoga saat ini gak seperti itu lagi.
Btw, thanks appara sudah berkunjung tu bagas nami. Saya terharu kalau ada marga siregar yang panggil appara dengan nainggolan. Berarti dia paham jala diboto akka tona ni natua-tua si jolo-jolo tubu.
Betul appara, sibuntuon lewat Onan Raja. Appara pernah ke Onan Raja?? Kalau pernah…berarti Apparaku ini memang petualang sejati.
Michael:Bah….kalau Siregar nggak tau marappara dengan Nainggolan, berarti Dalle itu….kecuali Dia silap…he..he..he…..Bah…kalau soal perjalanan appara sudah kumasuki sampai Majan, parlilitan, Parsoburan bahkan kampung Maranti….itu sudah jauh dipedalaman dari Sigura gura…perbatasan dengan Aek kanopan di kabupaten labuahan Batu, demi pengalaman dan mengetahui kehidupan orang Batak.
Salam Hormat
Horas
Ternyata “hepeng do mangatur negaraon” bukan cuma istilah halak hita Batak ate Lae? sahat do hape tu Pakistan
Michael:Tapi kita jangan menjadi Bangga pada hal itu Lae….cukuplah menertawakan kebodohan kita sendiri…..demi perbaikan di masa yang akan datang…Oke…?!
bah..ajeboado??
ku pikir cuma di negara kita ini aja yang seperti itu……
hhhoooaaalllaaahhhh…..
Michael:Itulah sebabnya kutulis di sini Ito…supaya kita tidak terlalu berkecil hati….masih ada yang lebih parah dari kita….tapi bukan berarti budaya Korupsi menjadi suatu kebanggaan ya…..
hahahahahaha..tdnya liat judulnya sy kira ttg orang pakistan yg ga ngrti english.gataunya salah au,hebat – hebat abangku ini,abangpun sampe 1 jam kaya patung liberty bdiri dsana..trus waktu dia ngucapin salam ke abang,bibir abang manyun ga?
Michael:Bah….mana mungkin manyunlah Dek…nggak manyun aja udah Seram….apalagi…he..he..he…
point of view-nya orang Indo sama aja dengan orang Pakistan?
Michael:Bah…orang Indonesia pasti lebih hebat lho…..Korupsinya….bayangkan ketika sidang saja…dengan enteng mengatakan….Tanyakan saja pada meja……atau Wah…duit empat puluh millyar kelupaan saya letakin di kamar…..Hebat bukan….?!
Ha..ha…ha… dasar ya gak dimana mana sama hepeng tuh bisa luluh, aturan juga bisa dilabrak
Michael:Begitulah….kalau Hepeng sudah memperbudak napsu manusia yang memilikinya.
Lae, kata orang melangkahkan kaki saja perlu udara, tak beda dengan memukul stempel di lembaran paspor. Di negara tropis dan sub tropis banyak juga wajah dingin yang beku. Di sono negeri dingin penuh wajah hangat yang berseri..hehehe…
Michael:Betul sekali Lae….hidup memang kadang di buat aneh ya…?!
saya baru tau kalo uang itu juga bisa bikin kita pinter bahasa inggris,wakakaka…o iya, jadi iri ni sama bung michael yang sudah banyak traveling,hehehehe..sekali saya diajak yah.hehehe
Michael:Bah….boleh lah….tapi Eits…anda Pria atau Wanita…? trus kalau Wanita sudah menikah atau belum..? trus kalau belum kita ke Penghulu dulu ya….mengurus Pasport…..he..he..he…
Hmmmm…..lain kali boleh tuh jika ingin menyelesaikan masalah trus ketemu orang yang said no english segera saja buka dompet dan cari uang yg nilainya lebih dan lebih murah……..halah! malah ngajarin yg tdk baik.sorry sorry,bos hehehe,
salam hangat selalu untuk persembahan persahabatan kita ini.
Michael:Terima kasih atas kunjungannya, salam persahabatan kembali dari saya.
Harusnya sekalian aja si Pakistan tsb bilang no english, money only to ?? Jd kita biar tau maunya ha…ha… Btw, gak cuma sogok-sogokan yang mirip budayanya, tapi juga kemauan untuk antri juga kurang lebih sama budayanya…
Lam kenal bang…
Michael:Masak sih….?????
hahahahaah…….pintar kali tu orang pakistan…kalah juga petugas imigrasi kita
….
Michael:Tetapi kalau urusan kong kali kong begini saya rasa lebih baik kalah lah….he..he..he…
hahahahahaha…dasar..org Indonesia mmg plg PINTAAARRRR…bangga aQ… *wadaow*
Michael:Bah….yang pintar yang mana……?! saya kan terpaksa….he..he..he….
huahahahahhah ternyata ada yang lebih parah dari Indonesia..
kursusnya murah amat yakk $20 langsung lancaaarrrrrr
Michael:Iya ya…..he..he..he….
Hehe…’budaya’ kita ada di sana juga ya? Atau ‘budaya’ mereka yang di sini? Au ah…sulit nyari asal usul budaya itu
hehehe…..
Michael:Bah….bahaya kalau hal seperti ini dianggap Budaya…..he..he..he….padahal di Indonesia dijadikan Tradisi…..
wahhaha…ternyata begitu ya, masih pake sogok-menyogok. kalo gitu gak jauh beda dg oknum petugas imigrasi indonesia. wah hari itu si petugas bisa makan enak pastinya plus bawa oleh2 pulang ke rumah
Michael:Saya ahirnya mengiklaskan juga sih….semoga menjadi Berkat baginya dan keluarganya….
hahaha…ternyata nggak cuma indonesia tercinta yang punya budaya sogok menyogok….
awal2 saya baca, kirain ada masalah2 yg berhubungan sama dokumen keimigrasian, eehhh…gak taunya hanya masalah ‘salah paham’.
bang, merasa beruntung jadi orang indonesia nggak, kalo sudah gini
coba, abang saat itu orang inggris, bisa sampai tutup kantor tetep berdiri, hahaha…..
Michael:Itulah “Hebatnya” orang Indonesia…..biar ketiban sial tetap Beruntung…?! he..he..he….
Kalo sogok menyogok Kok hanya ingetnya negara sendiri Yah…?
Bukankah di Phlipina, Timor Leste, India dan Asia lainnya juga begitu…?
Michael:Betul Mas…..disana juga ada korupsi…. tapi kan yang ada pengaruh langsung ke Kita adalah yang terjadi di Negeri Tercinta ini……he..he..he….
Jadi ingat waktu mengikuti Seminar di Boston September 2007 yl, kebetulan saya menginap di Fairmont Copley Plaza dan sekaligus tempat seminar dilaksanakan, letak hotelnya persis di down townnya Boston.
Pada saat pagi tiba, saya pergi breakfast di restoran hotel tsb, beda dengan di Indonesia, Hotel Bintang lima di Indonesia biasanya sdh including breakfast, tapi di fairmont copley plaza walaupun five stars (Rp.5 juta/malam) tdk termasuk Breakfast.
Setelah selesai membayar breakfast, saya didatangi pelayan sambil berkata: “Apa pelayanan saya kurang bagus”, kalau memang kurang, tolong sebutkan di bagian apa yg kurang, apakah penyambutan, atau penyediaan pesanan?.
Aduh mak, kok pertanyaannya detail amat, …. sambil gugup saya jawab, pelayanannya cukup bagus kok…..truz dia bilang, kalau begitu mengapa tidak memberikan TIP….
rupanya di Negeri Paman Sam khususnya di Boston, setiap kita memasuki restoran, cafe dll. sdh merupakan kewajiban memberikan tip sebesar 10% dari biaya yg kita makan.
……… Jadi tdk usah berkecil hati sbg bangsa Indonesia, asal muasal terjadinya praktek2 korupsi, Tip dll bukan budaya kita,
khususnya halak hita, tdk pernah diajarkan menolong orang itu supaya mendapat imbalan….buktinya membangun rumah di kampung cukup dikasih makan doang..
Bravo halak hita
Michael:Betul sekali Lae….. Banggalah dengan kebudayaan kita sendiri…… Eits, jangan salah… Korupsi dan Manipulasi sebenarnya bukan kebudayaan kita…bukan…?!
Terima kasih atas kunjungannya Lae…..
Tau aja petugas Imigrasi itu kalo Tulang berasal dari SUMUT ( Semua Urusan Mesti Uang Tunai) he..he.. thanks
Michael:Bah…. tambah lagi perbendaharaaan kata kita…….he..he..he….
hihihi…
kursus bahasa inggrisnya ternyata cuman dua puluh dollar aja, Bang…
*sumpah, ngakak aku bacanya… *
Michael:Betul…. dalam waktu yang super singkat lagi he..he..he….
hi….aduh bang…ternyata, bukan cuma indo yang demikian ya bang! aku ga kebayang kalo abang yang lagi kepanasan ga menemukan ide itu…berapa jam kira2 ngendon disana ya bang? he…
Michael:Sekitar satu jam…berdiri bingung… tetapi sehabis perjalanan jauh dan melelahkan menjadi serasa sebulan….. hyper sedikit … he..he..he….
bah sudah kemana aja kau jalani lae… jangan2 portibi ini udah kau jalani semua…mantaplah.
ya…kadang ,uang disebut pelicin…
Kemarin pulang ke Indonesia,juga sempat antri 2 jam di pembayaran visa (visa on arrival receipt) katanya komputer rusak…aduh indonesia… orang arab dan bule ,pada marah-marah .
Tapi di taiwan masalah begini,ngak bakalan terjadi…jarang dengar minta uang pelicin…apalagi petugas imigrasi.
Ya..dimana tanah dipijak disitu langit dijunjung kali ya! …Sabar Bang Michael!
Michael:Betul sekali Mbak Aling…. saya sudah beberapa kali kesana… mungkin suatu saat saya akan menuliskan pengalaman tentang Taiwan…. sabar ya….
Ternyata tidak hanya di Indo ya Bang, Ternyata disemua negara miskin seperti itu. He he..
wah berarti uang $ 20 itu seperti kursus kilat bhas Inggris. Langsung lancar. thanks
Michael:Tetapi sebenarnya kemiskinan bukan jadi alasan untuk berbuat curang bukan…?!
Saya nyengir kuda diakhir-akhir ceritanya. duh… ternyata sama aja. Dan terlahir di bangsa yang budaya korupnya berkembang relatif “sempurna” ternyata memberi kemudahan pada satu hal. Coba kalo gak ngerti praktek seperti itu, bisa nunggu berapa jam ya Bang disitu? alias gak masuk-masuk ke Pakistan hehehe…. duh duh duh…
salam
-japs-
Michael:Begitulah… kalu kita selalu berpikiran positive…. hal hal negative pun bisa digunakan menjadi positive bukan…?! Terima kasih atas kunjungannya, salam persahabatan dari saya.
hahaha.. petugas imigrasinya jangan2 pernah ke indonesia lagi.. ada-ada ajaa..
Michael:Kayaknya enggak tuh…. kan no English….. he..he..he….
bah ido tutu? asa husukkun jo dongan kon ate?hehehehe….naeng ma silesengan jo hami.
Michael:Bah… unang gabe marbada da…?! he..he..he….
kyahahaha…ternyata ya…??
Michael:he..he..he…
hah? huaaaa…. ya ampun!
serunya pengalaman bang michael.
ya ampun, ya ampuuuunn…
duh, mudah-mudahan kejadian seperti ini tak terjadi di negeri kita tercinta ya, bang?
*masih syok, gak sanggup komen*
Michael:Semoga…..
Ngapain pulaklah lae ini ke kampungku, Parlilitan sana. Lae, kalo ke Indo, datang lagi ke Parlilitan ya, limapuluh dolar aja kita habiskan mitu di sana. Hehehe.
Michael:Bah… jangankan Parlilitan… Aek Kandis dan Batang Gogar yang belum dimasuki Mobil pun kuhampiri Lae… dengan berjalan kaki…. demi pengalaman.
Lima puluh dullar sudah bisa Tenggen itu kalau minum tuak Lae….. he..he..he…
Luarbiasa kutengok pengalaman petualangan lae ini bah. Salut lae, tidak hanya LN yang dijalajahi, tetapi pelosok-pelosok negeri juga tak terlewatkan. Saya juga suka bertualang lae, tapi karena no inglosh, no habla espanola dan no dinero, bertualang dalam negeri saja, dari desa terisolasi yang satu ke desa terpencil yang lain. Hehehe.
Michael:Iya…. dari desa Montreal ke Quebec, dari Van Couver ke Calgari…. he..he..he….
Tetapi saya serius… Batang Gogar itu didaerah Gunung Tua, Tapsel, masuknya dari Langga Payung… dari Batang Gogar bisa tembus ke garoga… saya juga pernah memasuki desa Maranti.. masuknya dari Aek Kanopan Labuhan Batu… melewati bukit bukit tembusnya ke Parsoburan dan Parsambilan.
Maranti adalah Kampungnya Marga Siagian… kebanyakan marga Siagian dan Panjaitan penduduk disana.
pgn jg dong kursus bhs inggris di kntr imigrasi…
Kira2 di pakistan ada OMBUDSMAN jga ga yah??itu lho lembaga pemerintahan yg ngurusin maladministrasi di kntr pmrintahan
Michael:Ah… Om Budiman Om Trainer atau Om Om apapun itu lembaga atau tim khusus yang dibentuk Pemerintah untuk menyelidiki sesuatu, hanya topeng saja… ujung ujungnya mereka hanya memperalat Jabatannya untuk “Memeras” bukan untuk menyelidiki dengan Hati nurani… sejarah telah mencatatnya…
Hahaha Pakistan ama Indonesia beda tipis