Saya mempunyai seorang teman yang berasal dari Swedia, namanya Stigg Fellmann.
Beliau ini termasuk salah satu pelopor Automation system, sejak awal awal ditemukannya Computer, dan applikasi Automation system dirancang, sekitar awal tahun delapan puluhan.
Beliau ini termasuk “Suhu” atau “Guru Besar” di perusahaan ABB, mungkin anda pernah mendengar atau mengetahui perusahaan Produsen alat alat Electronic ini.
Atau kalau Anda orang yang bekerja di perusahaan ABB (karena ABB punya kantor Cabang di Indonesia), Anda akan tau orang seperti Mien Tun (asal Myanmar) yang menjadi Branch Manager ABB di Singapore, Jerry Svensson Asia Pacifik.
Dua orang ini dan beberapa orang lainnya adalah “Murid” Stigg.
Pertama kali saya bertemu dengan Stigg di Singapore, diawal tahun sembilan puluhan, saat itu saya masih Apprentice, masih Hijau dan belum tau banyak tentang Technology.
Dari Stiig lah saya belajar banyak tentang Technology Automation dan segala kerumitannya.
Stigg pecandu berat Kopi, dia bisa menghabiskan bermangkok mangkok Kopi setiap harinya, karena ditempat kita bekerja di Lapangan dan tidak ada Office Boy nya, sehingga yang kebagian jatah mengisi ulang bubuk kopi dan air kedalam Kopi Machine adalah saya sebagai yang paling Muda saat itu, sebab yang lainnya sudah lebih senior.
Saya dengan senang hati melakukannya, karena mereka membayarnya dengan imbalan yang tidak ternilai harganya… yaitu ILMU..!
Mereka tidak bosan bosan menjawab setiap pertanyaan saya, meskipun kadang pertanyaan saya akan kedengaran “Silly” bagi mereka.
Beberapa tahun saya sering bekerja sama dengan Stigg, di berbagai tempat mulai dari Singapore, Malaysia, Taiwan, Hong Kong, India, Argentina, Kolombia dan beberapa negara Eropah lainnya.
Meskipun kami berbeda Perusahaan tempat bekerja, tetapi karena sering Joint Venture dalam menangani beberapa Projects, sehingga kami seperti satu team dan satu keluarga besar saja.
Beberapa kali Stigg pernah Curhat kepada saya, bercerita tentang keluarganya.
Stigg mempunyai tiga orang anak, yang tertua laki laki bernama Estefan, yang kedua Perempuan bernama Linda, dan yang Bungsu agak jauh jaraknya dari kakaknya yang dua bernama Corrina.
Stigg sebenarnya bekerja sebagai Sub Contractor bagi perusahaan ABB, Dia menyiapkan Design, gambar design (Hardware Circuit Diagram), Software design (Blog diagram dan function Blogs).
Saya ingat saat itu Computer System belum secanggih saat ini, belum menggunakan Hard Disc, masih menggunakan E-from, tidak bisa dierase atau diprogram ulang secara on line, harus diprogram dengan alat khusus, satu persatu.
Untuk satu unit project Stigg menerima bayaran sebesar USD 200.000,- memang untuk pengerjaan pertamanya membutuhkan waktu berbulan bulan mengerjakannya, tetapi setelah beberapa Project, akan sangat mudah, karena semuanya hanya memerlukan Copy Paste saja, selain perlu Knowledge yang sempurna tentang hal itu untuk mensinkronkannya.
Stigg bisa mengerjakan beberapa Projects setahunnya, sehingga secara Finansial sangat berkecukupan, Diapun tidak terlalu memaksakan diri bekerja, karena didalam setahun Dia akan meliburkan diri setidaknya selama empat bulan, dua bulan dua bulan yang dilakukan dua kali setahun.
Selama liburan selalu dihabiskannya dengan Hobby terbangnya, bersama pesawat Ultra Light dan sebuah Pesawat Pribadi bermesin ganda.
Stigg ingin agar diantara anak anaknya ada yang mau meneruskan Usaha yang telah dirintisnya dengan susah payah dan selama bertahun tahun tersebut.
Tetapi sayang kelihatannya mereka tidak tertarik, Estefan menjadi Pialang Saham di Wall Street New York, beliau inipun bisa menghasilkan uang yang lebih banyak dari Stigg, sementara yang nomer dua Linda menjadi seorang Dokter Specialist Kandungan di Kopenhagen Denmark.
Yang bungsu Corrina bekerja dibagian Marketing pabrik mobil Volvo di Gothenborg.
Stigg sangat sedih membayangkan tidak ada lagi penerus yang akan melanjutkan bisnisnya, untuk itulah Dia pernah menawarkan kepada saya agar mau melanjutkan usahanya, dia melihat potensi saya yang mengerti bidang yang digelutinya, dan mungkin hal hal lain yang menjadi pertimbangannya.
Tetapi Stigg mengharapkan kalau saya mau menjadi menantunya, karena katanya Putri Bungsunya belum mempunyai Pasangan yang serius, dan si Bungsu ini sangat penurut pada Stigg, karena memang Dia Putri kesayangannya.
Akan lebih indah kalau bisnis saya diteruskan oleh keluarga, misalnya Menantu…. begitu kata Stigg setiap kali.
Saya waktu itu tidak memberikan respon yang positive, karena saya juga punya karir sendiri, dengan penghasilan yang saya rasa cukup untuk kebutuhan saya.
Lagi pula, saya nggak tau apakah putrinya akan setuju..?! kalaupun setuju apakah cocok dengan saya..?!
Stigg pernah menawarkan pada saya untuk berlibur disebuah Pulau kecil miliknya didaerah perbatasan antara Swedia dan Finnland, akan diperkenalkan dengan Putrinya Corrina.
Dia menawarkan akan membelikan Ticket untuk saya, tetapi saya menolaknya dengan halus, takut akan menjadi beban bagi saya.
Suatu saat ditahun 1997 ahir, kami mendapatkan sebuah Project di Gothenborg Swedia, kebetulan Stigg juga menjadi bagian dari team kami.
Sejak hari pertama saya bertemu stigg di Gothenborg, dia sudah nggak sabaran akan mengenalkan saya dengan Putrinya, yang tinggal beberapa kilometer dari tempat kami menginap yang agak diluar kota tepatnya didaerah Bergsjohn.
Saat itu musim dingin, weather di Gothenborg yang terkenal Windy dan salju yang terus menerus turun, kadang sampai hampir setengah meter tebalnya menutupi bumi, sehingga kalau mau keluar dari perkiran Mobil, harus membersihkan salju dulu dengan sekop, karena pihak pemerintah hanya membersihkan jalanan besar saja.
Ahirnya diahir pekan saya bertemu dengan Corrina disebuah restaurant yang dipilihkan oleh Stigg untuk makan malam bersama.
Corrina berambut Blonde seperti kebanyakan Gadis Scandinavia lainnya, orangnya cukup tinggi dan langsing, saya perkirakan sekitar 180 an Cm, sesuai dengan tinggi saya yang 187 cm.
Orangnya cukup ramah, ciri khas orang marketing barang kali, cukup humoris yang membuat saya langsung akrab dengannya.
Kelihatannya Stigg cukup senang dengan keakraban kami, tak sia sia dirinya bela belain mengenalkan saya pada Putrinya.
Perkenalan pertama saya sangat berkesan, makan malam yang sangat akrab dan indah untuk dikenang.
Dalam perjalanan pulang, Stigg menanyakan saya bagaimana kesan saya terhadap Putrinya dan apa rencana saya selanjutnya, dia memberondong saya dengan berbagai macam pertanyaan.
Saya tertawa, karena saya dengan Stigg sudah sangat akrab, sehingga saya tau tabiatnya yang suka nggak sabaran.
Saya katakan padanya bahwa saya sangat terkesan dengan keramahan Putrinya, apalagi saya melihat kemesraan dan keakraban diantara mereka, hal yang agak jarang saya temui diantara keluarga keluarga Eropah lainnya, biasanya mereka sedikit cuek, hanya akrab pada temannya tidak kepada orang tuanya.
Disaat makan malam itu pula Corrina menyebutkan kalau dirinya akan segera pindah rumah, karena dirinya baru saja membeli rumah yang sudah agak tua, tetapi kondisinya masih baik.
Corrina sangat menyukai yang agak Klassik, apa lagi interior ruangannya terbuat dri kayu, termasuk lantainya.
Stigg bercerita pada saya bahwa sepulang kerja beliau langsung menuju rumah baru Corrina yang dalam perbaikan, mengecat dan mendekorasi ruangan, sengaja tidak membayar tukang, karena Corrina pengen benar benar mendesign ruangan sesuai dengan keinginannya, hanya bagian luar saja yang dikerjakan oleh tukang Professional.
Stigg menawarkan kalau saya mau membantunya sepulang kerja, nggak usah ke Hotel, langsung ke rumah Corrina yang belum ditempati, makan malam akan disediakan disana oleh corrina.
Saya setuju menemani Stigg kesana.
Sesampainya disana, kami disambut dengan senyuman cerah dari Corrina, ternyata Stigg sudah memberi taunya melalui telepon.
Rumah Corrina cukup besar, berlantai dua, lantainya dilapisi kayu Mahagoni (Mahoni) yang cukup baik, sayang pemilik terdahulu kurang paham akan Kayu, sehingga kayu tersebut dilapisi dengan karpet yang dilekatkan dengan paku kecil kecil kelantai, kelihatan bekas karpet yang meninggalkan noda putih diatas kayu.
Corrina menanyakan pada saya kira kira bagaimana sebaiknya lantai kayu itu, karena dia sangat suka bahan kayu.
Dia mengatakan ingin mengganti karpetnya, karena paku paku kecil itu susah dicabut, kalaupun dicabut akan merusak permukaan kayu karena sebagian kayu ikut tercabut keatas, sementara dianya sangat ingin menikmati keindahan kayu itu.
Lantas saya menyarankan agar melakukan hal sebaliknya, bukan mencabut paku paku itu, tetapi malah memasukkannya kedalam kayu dengan Palu kecil, kemudian permukaan kayu bisa di haluskan dengan mesin pengamplas kayu dan di beri varnish.
Ketika saya berikan contohnya sedikit dan membersihkan permukaan kayu dengan kain, ternyata hasilnya cukup bagus sekali, sehingga Corrina sangat senang.
Sekitar jam sepuluh malam, stigg mengajak saya pulang ke Hotel, karena memang saya datang bersama Stigg, tidak membawa kendaraan sendiri.
Tetapi Corrina protest dan mengatakan sesuatu dengan bahasa Swedia yang tidak saya mengerti, Stigg saya lihat tersenyum penuh arti, saya hanya bingung tak tau apa yang terjadi.
Ahirnya Stigg mengatakan apakah saya mau tinggal, Corrina yang akan mengantarkan saya ke Hotel, saya mengatakan nggak masalah, karena saya merasakan ada sesuatu dibalik ini.
Setelah Stigg pergi, kami berdua hanya duduk dan berbincang bincang tentang bagaimana pertemanan saya dengan stigg, Corrina juga memberitau kalau Stigg banyak bercerita tentang saya padanya.
Sekitar jam dua belas malam kamipun pulang, Corrina menghantarkan saya lebih dahulu.
Bersambung……..
ooo… ini ta, kisah roman yang lain dari panglatu. hahaha…
nggak sabar nunggu sambungannya.
ayo, cepet sithik mas. wis rak sabar kepengen maca terusane.
Haduh. Buntut-buntute kisah cinta jaman mbiyen tho? Apa sik lanjut? Hehe…
Ayo, ndang dilanjut. Wis ga sabar pingin ngerti piye critane…
wah ternyata banyak sekali kisah cinta abangku ini……
ditunggu lanjutannya. Kemana aja lama ga mampir?
cerita bohong, cerita picisan, cerita orang munafik!!!
tukang bohong!!!
tukang tipu!!!
tukang dusta!!!
Loh?
Gw cuma ngomentarin komentar sebelum gw aja deh..
Ono opo to?
wooTT..berman9kok man9kok kopi ban9?
bukana 9eLas.. ??
eduuuunn..
hemmm..ya daw trima sajah ban9 corinanya hehhehe..
** kaburrrrr
Banyak banget pelabuhannya ya Ito
Kapan mau menepi he..he..he…
Masih betah jd panglatu ya Ito
waduh…klo saya liat komment2 diatas,,,hampir semua cewek dan pengunjung setia lae…
sedikit tapi cukup jelas mereka menyimpan kecemburuan sekaligus kagum saat lae bercerita tttg kisah lae dengan wanita lain..hehehe…pisss lae…
Pengunjung setia..
seperti saya.
Cinta lama memang indah untuk dikenang ehehe
hwaa…kog bersambung si….?
selamat malam bang
pa cabar?
semoga segalanya menjadi indah di hari hari abang
salam hangat selalu
mas…kok ada yg marah-2 tuh…si yuna …
ini cerita lain dari pengalaman cinta abang ya
ditunggulah kelanjutannya….
waaah,,,ceritanya cerita cinta to ??..kita tunggu lanjutannya..
apa kabar mas michael..??
hi, iban…long time no see
sehat, ban?
dmn skrg?
Mampir…
Dah lama tidak main kesini.
salam hangat selalu.
buruan dunk diterusin…..
pa cabar om
salam hangat selalu
crita jadul yak??
yg sekrang mana?
hihihi……ada gak yah yang bakal cembetut abis baca postingan itoq ini??
tuh kan, sebenarnya banyak banget cewek yang berebut ma itoq ini, tapi kok masih panglatu aja seggghh???
*bingung mode=ON
Mampir dulu bang…lama gak berkunjung neh.
hehe….
dah ga sabar nunggu cerita selanjutnya
asyik2 bacanya…
ngak sabar nih nunggu lanjutannya
sambungannya mana ya?
Sepertinya Ito kita ini (Michael) sudah mengundurkan diri dari dunia maya…seperti yang sudah dia tuliskan di dalam ruangan/kolom Michael…Jadi jangan penasaran menunggu kelanjutan cerita…OK!
selamat malam bang
blue selalu berharap ada postingan baru dari abang kita ini
salam hangat selalu
ban9 michaeeeeelLLLL.. pa kabarrrrrrrrrrrr..????
kmana saJakaaaahhhh……..?????
bikin jadi kepengen nech…kapan ya saya bisa keliling sana….