Feeds:
Posts
Comments

Archive for June 3rd, 2009

Namanya Widiyanti, wajahnya ayu, imut dan kelihatan sangat polos sekali, tanpa polesan make up atau apapun sudah terpancar aura kecantikan dari wajahnya.

Itu yang saya tangkap kesan ketika pertama kali saya bertemu dengannya, sekitar empat tahun yang lalu di sebuah bangku besi yang banyak terdapat disekitar Victoria Park Hong Kong.

Usianya baru menginjak 17 Tahun, masih kelihatan wajah kekanak kanakannya, Dia hanya lulusan SMP di Wangon, setelah itu berhenti karena kesulitan biaya.

Kebiasaan saya waktu itu bila nggak ada kegiatan yang lain, saya memilih nongkrong di Victoria Park yang terdapat di daerah Causewaybay Hong Kong.

Sekedar ngobrol dan berkenalan dengan orang orang Indonesia yang ada disana atau hanya sekedar mendengarkan obrolan dan cerita mereka.

Banyak hal hal yang lucu yang saya dengar dan alami dari mereka, tentang banyak hal, dari semua segi kehidupan mereka pengalaman pengalaman yang mereka lewati dengan segala suka dukanya.

Ada hal yang sering saya alami…. sering kali saya duduk diam diantara mereka, mendengarkan semua obrolan mereka, ketika saya menyelethuk atau bertanya pada mereka dalam bahasa Indonesia…. kelihatan keterkejutan diwajah mereka, yang tidak menduga kalau saya mengerti dan fasih berbahasa Indonesia.

Terlebih lagi bila saya menyapa mereka dalam bahasa Jawa, yang tentunya sedikit kaku dan agak lucu barangkali.

 

Siang itu hari Sabtu, seperti biasa Victoria Park tidak begitu ramai, karena biasanya para TKW asal Indonesia kebanyakannya berlibur dihari Minggu.

Saya sedang duduk sendiri disebuah Bangku besi yang terdapat disekitar airmancur di Victoria Park sambil membaca sebuah buku berbahasa Inggris.

Seorang gadis remaja berjalan dengan santainya menuju kearah dimana saya sedang duduk, saya terhenyak….! wajahnya yang sangat mirip dan mengingatkan saya pada seseorang yang sangat saya kenal hanya saja dia jauh lebih muda, ya…. saya teringat akan Anggi yang berasal dari Purworejo.

Tanpa basa basi, dia duduk diujung lain bangku yang sedang saya duduki meski kelihatan wajahnya ragu dan sedikit bingung.

Kulirik padanya sambil menutup buku yang sedang saya baca, ketika mata kami beradu, terlihat dia bingung dan dengan kaku berusaha tersenyum pada saya.

Lalu saya menyapanya dengan standard question… “Mbak dari Indonesia..?!”

Saya lihat dia bingung setengah mati… beberapa saat kemudian dia baru menjawab dengan pertanyaan pula… “Lho… koq bisa ngomong Indonesia ya…?!”

“Saya orang Indonesia Mbak… ya pasti bisa ngomong Indonesia… “ jawab saya menjelaskan.

Kelihatan dia nggak bisa menerima penjelasan saya, tetapi wajahnya kini berubah berseri seri, mungkin karena merasa menemukan seseorang yang bisa diajak berbicara bahasa Indonesia.

“Mbak asalnya darimana..?!” tanya saya.

“Saya dari jawa tengah Mister…” jawabnya.

“Ah.. panggil saja saya Michael … jangan pakai mister… , nama kamu siapa…?!” saya memotongnya.

“Nama saya Widiyanti… asal saya dari Purwokerto…” jawabnya.

“Purwokertonya dimana…?!, saya pernah kesana…. saya ada kenalan di Purworejo..” tanya saya.

“Desa saya ada di dekat bendungan kali serayu… di Kebasen” jawabnya.

“Oh… itu kalo nggak salah diseberangnya restaurant yang ada hotelnya Kalibacin khan..?!” tanya saya.

“Iya… koq tau mister…?!” jawabnya.

Saya memandanginya… “jangan pakai mister ya…?!”.

Dia tersenyum malu malu dan tertawa tertahan.

Begitulah awal pertemuan saya dengan Widiyanti, cukup lama saya mengobrol dengannya, saya mengajaknya makan siang bersama disebuah restaurant Indonesia Padang Restaurant dilantai dua dibawah sebuah theater di Causewaybay.

Dia bercerita pada saya bahwa dia baru tiba dari Indonesia, belum sebulan lamanya dan ini kali pertama dirinya jauh dari keluarganya di Kebasen sana.

Dengan potongan gaji selama tujuh bulan sebesar HKD 2000,- dia hanya menerima sisanya sekitar HKD 300,- saja setiap bulannya, harus cukup untuk ongkos dan keperluan lainnya.

Ahirnya saya katakan saya bisa membantunya sekedarnya, dengan cara saya sendiri, dia saya belikan sebuah kartu “Octopus Card” yaitu kartu pra bayar untuk menaiki MTR atau kereta bawah tanah di Hong Kong, tetapi kartu ini juga Multitask, bisa digunakan untuk membayar bila naik Bis, juga untuk keperluan lainnya di supermarket supermarket bisa dibayar dengan kartu ini.

Saya memang sengaja tidak memberikannya uang Cash, karena mungkin akan mencurigakan pada “Employer nya” bila dia memegang uang cash yang cukup lumayan.

Saya banyak memberi arahan dan nasehat padanya, karena entah mengapa saya merasa sangat dekat dengannya, saya menganggap dia seperti adik saya sendiri, dan kelihatannya diapun bisa menerima saya sebagai kakaknya.

Saya wanti wanti dia agar jangan sampai salah bergaul, terutama jangan sampai berpacaran dengan orang orang Pakistan yang banyak berkeliaran dan selalu merayu para wanita wanita asal Indonesia yang ada di Hong Kong.

Karena biasanya mereka akan menggerogoti uang dan segala harta benda mereka, setelah itu akan ditinggal begitu saja.

Bukan cerita aneh lagi bila seorang wanita Indonesia harus pulang kampung karena hamil dengan lelaki Pakistan, atau harus berahir di praktek praktek dokter gelap untuk melakukan Aborsi.

Saya nggak mau itu terjadi pada Yanti.

Oh ya.., saya lebih suka memanggilnya Yanthi dari pada Widi seperti biasanya teman dan keluarganya memanggilnya.

Seminggu sekali Yanthi libur, dan setiap kali pula saya menyempatkan diri untuk bertemu dengannya, mendengarkan semua keluh kesahnya, kemudian mengajaknya makan bersama.

Saya mengenalkan Yanthi pada Mbak Nur yang asal Sumpiuh, tidak jauh dari Kebasen.

Saya meminta Mbak Nur agar mengajak Yanthi untuk ikut bersama ke Pengajian yang dipimpin oleh Pak Muhaemin yang dari Islamic centre Hong Kong.

Kami benar benar akrab, dan saya sangat senang karena menurut saya Yanthi orangnya penurut dan nggak macem macem seperti yang lainnya.

 

Minggu kemarin, saya bertemu kembali dengan Yanthi… juga tidak sengaja, karena nomor teleponnya sudah diganti, sehingga saya kehilangan jejak.

Pertemuan yang nggak disengaja itu mengagetkan Yanthi, juga saya.

Kini Yanthi sudah semakin dewasa, sudah 21 tahun sekarang usianya, semakin cantik dan semakin tinggi tubuhnya.

Tetapi saya merasakan sesuatu yang lain, ada sesuatu yang nggak beres … entah apa…

Yanthi memotong rambutnya yang panjang, kemudian mengecatnya dengan warna sedikit Blonde, make up yang sedikit menor untuk ukuran saya.

Saya mengajaknya makan malam, karena kami bertemu sudah sekitar jam enam sore.

Setelah selesai makan, saya bercerita tentang banyak hal tentang kehidupan kami masing masing, sambil duduk dibangku besi dibawah keremangan taman Victoria Park.

Setelah beberapa lama bercerita Yanthi menceritakan sesuatu yang cukup membuat saya terhenyak.

Tanpa basa basi Yanthi bilang “ Mas… saya sudah nggak Perawan lagi…. “

Saya kaget setengah mati, karena hal ini bukanlah sesuatu yang saya Expected dari seorang gadis lugu seperti Yanthi.

“Kamu pacaran dengan orang Pakistan …?!” selidik saya.

“Nggak Mas…” jawabnya sambil menunduk.

“Lalu dengan lelaki mana kamu melakukannya..?!” desak saya.

“Bukan lelaki Mas… saya sekarang berpacaran dengan seorang cewek Tomboy…” katanya sambil melirik saya pasrah.

“Lho… koq pacaran dengan cewek, kamu bisa nggak Perawan lagi…?!, bagaimana ceritanya itu..?!” tanya saya dengan kebingungan, karena saya nggak habis pikir apa yang mereka lakukan.

“Yah.. anu Mas… dia pake alat itu yang dibeli di Wan Chai… sakit sekali Mas…” katanya sambil menatap saya.

Saya lihat dibawah keremangan lampu taman Victoria, mata Yanthi mulai berlinang air mata, dia menunduk ketika saya menatapnya tajam, berusaha menyembunyikan tangisannya mungkin.

Saya bisa merasakan penyesalannya yang luar biasa disana, tetapi segalanya sudah terlambat bukan..?!.

Saya benar benar marah, saya ingin teriak sekuatnya…. saya nggak rela Adik saya menjadi begini, saya ingin memaki dan menampar Yanthi…. saya ingin memarahinya dengan segala sumpah serapah, saya ingin menuntutnya karena sia sia segala apa yang saya katakan dan lakukan selama ini, kalau hasilnya tetap seperti ini.

Saya berdiri dan melangkah kesebuah pohon akasia yang berdiri tegak disamping bangku, kutinju sekuat tenaga, melampiaskan kemarahanku, entah pada siapa.

Setelah beberapa saat melampiaskan kemarahanku, saya sadar…. tak ada gunanya lagi, toh segalanya sudah terjadi, Yanthi sudah tidak suci lagi.

Saya mendekatinya kemudian memeluknya dengan erat, Yanthi membalas pelukanku, tangisnya meledak didadaku, cukup lama saya membisu, kubiarkan Yanthi memuaskan tangisannya didadaku.

Tak kusadari ternyata airmata pun sudah mengalir diwajahku….. ternyata sayapun tak setegar yang saya kira selama ini.

Setelah cukup lama, sambil mengusap usap rambut dibelakang kepalanya, saya mengatakan pada Yanthi agar menerima kenyataan yang dia jalani, semuanya adalah hasil dari perbuatannya sendiri, tentunya harus menerima resikonya sendiri.

Yang penting sekarang adalah bagaimana kedepannya, agar dia bisa kembali menjalani kehidupan yang normal, karena menurut saya Homo dan Lesbianisme adalah kehidupan yang menyimpang dari Kodrat.

Saya juga berusaha menjelaskan pada Yanthi, bahwa ketergantungan atau ketagihan dengan Lesbianisme akan menyulitkan dirinya nanti bila kelak suatu saat dia akan menikah dan menjalani kehidupan berumah tangga.

Dengan tegas saya katakan dia harus meninggalkan kebiasaan buruknya itu, kalau perlu agar dia memulai untuk berinteraksi dengan Laki laki, memulai membuka diri pada Laki laki mungkin dengan perlahan akan bisa merubahnya, bahkan meninggalkan nya sama sekali.

Cobalah berpacaran dengan lelaki, kalau perlu coba bermesraan dengan Lelaki, agar kebiasaan itu bisa berubah kata saya padanya.

Saya sangat marah dan kaget setengah mati ketika Yanthi malah mengusulkan hal yang sungguh tidak saya duga sama sekali, dia mengusulkan agar dia melakukan hubungan sex dengan saya, untuk membuktikan kalau dia masih bisa menikmati hubungan dengan lelaki atau tidak.

Saya katakan, bahwa saya adalah lelaki yang normal dan tentunya butuh hubungan sex, sayapun bukanlah orang yang munafik yang sok alim untuk mengatakan bahwa saya Virgin, saya juga tidak menolak Sex before married, tetapi dengan Yanthi…?!

Yanthi sudah saya anggap Adik saya sendiri, meskipun selama ini orang orang selalu memandang sinis dan aneh pada kami bila kami berjalan bersama, saya yang mempunyai tinggi badan 189cm dengan Yanthi sekitar 160 an, sangat contras sekali.

Saya bilang pada Yanthi, kalaupun memang itu jalan yang harus ditempuhnya menurut dia, saya bukanlah orangnya, lebih baik cari orang lain saja.

Saya menyarankan padanya sebaiknya dia harus tekun kembali pada kegiatan Pengajian yang dulu selalu diikutinya, yang kini sudah lama ditinggalkannya, mudah mudahan dengan kegiatan itu dia akan bisa menyadari apa yang sebaiknya dilakukannya.

 

Kami berpisah setelah waktunya Yanthi harus pulang kerumah dimana dia bekerja, setelah terlebih dahulu saya mengisikan Vaucher Octopuss Card nya.

Saya berharap Adikku Yanthi bisa menemukan jalan keluar yang terbaik atas masalah yang dihadapinya, sampai hari ini, diapun tidak meneleponku, padahal saya memberikan nomor Hotel yang bisa dihubunginya, karena telepon satelit yang saya pakai akan terlalu mahal untuknya.

Saya pun nggak berusaha menghubunginya, saya pikir mungkin dia tidak membutuhkan saya lagi…..

 

Yanthi…. Abangmu ini akan selalu menyayangimu…. selalu siap membantumu… kalau kamu membutuhkan………

Advertisements

Read Full Post »