Feeds:
Posts
Comments

Archive for June 20th, 2009

ahirnya Rini pasrah… dihempaskannya tubuhnya kelantai begitu saja sambil bersandaran ditembok… ditengadahkannya wajahnya untuk menahan linangan airmata yang sedang tumpah… tetapi usahanya sia sia … aliran hangat airmata yang dirasakannya meleleh dipipinya.

Namanya Rini, saya sendiri nggak tau apakah itu nama lengkapnya atau hanya singkatan saja, karena sayapun tidak pernah berusaha untuk menanyakannya.

Sebenarnya saya kurang begitu dekat dengan Rini…. tetapi karena sering bertemu dengannya dan juga sering mendengar cerita cerita tentang hal hal yang pernah dialaminya, membuat saya sangat tertarik dan menaruh simpaty padanya.

Rini sudah sepuluh tahun lebih bekerja di Hong Kong, sebenarnya sesuai undang undang keimigrasian Hong Kong, Rini sudah berhak untuk mendapatkan Passport Hong Kong atau menjadi warga negara Hong Kong, karena sesuai undang undang Hong Kong, setiap orang yang tinggal secara continu selama lebih dari tujuh tahun lamanya, berhak untuk mengajukan diri menjadi warga negara Hong Kong yang sekaligus mendapatkan Passport dan ID Hong Kong.

Rini mempunyai Pacar seorang warga negara Hong Kong yang berasal dari Indonesia namanya A Fung, sayang A fung sudah berkeluarga dan Rini mengetahui hal ini sejak awal mereka berkenalan.

Suatu kali saya pernah bertanya pada Rini, apa yang direncanakannya terhadap masa depan, maksud saya apakah dirinya mengerti dan menyadari apa yang sedang dilakukannya dengan A Fung yang sudah beristri.

Rini menjawab dengan pasti bahwa dirinya sepenuhnya sadar dan mengerti dengan status A Fung, dan dia pun mengatakan pada saya bahwa dia sedikitpun tidak bermaksud akan merebut A Fung dari keluarganya, cukup hanya berpacaran saja dengan A Fung, dan hal ini sudah berjalan sekitar sepuluh tahun juga.

Rini sampai di Hong Kong di usia yang masih muda, sekitar delapan belas tahun.

Seperti kebanyakan TKW lainnya yang ada di hong Kong, pertama kali sampai di sini, tanpa bekal pengetahuan yang cukup, baik bahasa, tata cara hidup apalagi tentang hak hak nya.

Setiap hari Minggu kadang Sabtu, Rini mendapat hari libur, seperti peraturan pemerintah Hong Kong, mulai pagi sampai pukul sepuluh malam mereka bebas hendak pergi kemana saja sesuka hati.

Selama tiga bulan Rini hanya duduk duduk sekitar taman disekitar kompleks perumahan tempatnya bekerja, atau kadang hanya tiduran didalam rumah.

Dirinya tidak berani pergi jauh jauh, karena belum tau alamat dan liku liku Hong Kong, terlebih lagi saat itu dirinya masih dalam masa potongan gaji selama tujuh bulan, sehingga yang tersisa hanya sekitar tiga ratus dollar Hong Kong saja setiap bulannya, yang harus digunakan untuk segala macam keperluannya.

Tugas utama Rini adalah mengasuh Bayi yang baru berusia dua bulan, disamping urusan rumah tangga lainnya tentunya.

Sering kali Rini tidak keluar rumah disaat liburan Hari Minggu, membuat Employernya merasa sympati, sehingga kadang sekalian mereka meminta Rini untuk menjaga bayi mereka agar mereka dapat memanfaatkan hari Minggunya untuk bepergian dan bersantai, maklum mereka adalah pasangan muda yang sedang mencapai masa masa puncak gairahnya.

Tetapi mereka membayar Rini extra untuk hal ini, setiap hari Minggu Rini tinggal dirumah mereka membayar HKD 150,-.

Setelah beberapa hari Minggu, Rini bisa sedikit sedikit mengumpulkan uang extranya, hal ini membuatnya punya keinginan untuk mengetahui keadaan kota Hong Kong, dia ingin melihat Causeway bay yang menurut Mbak sebelah rumahnya adalah tempat berkumpulnya orang orang Indonesia di Hong Kong.

Suatu hari Rini mengutarakan niatnya itu pada Employernya, dia mengatakan ingin berlibur karena ingin mengunjungi Causeway Bay terutama Victoria Park, Employernya pun mengetahui hal itu, sehingga memakluminya, tetapi mereka memintanya agar berlibur hari Sabtu saja karena mereka ingin bepergian dihari Minggu, hal ini langsung disetujui oleh Rini, karena baginya yang penting adalah bisa melihat Causeway Bay dan taman Victoria, hari apa bukan menjadi masalah.

Jadilah hari itu hari Sabtu, Rini pergi ke Causeway Bay, hari yang kelabu, terjadi nya malapetaka yang tidak akan pernah dilupakan seumur hidupnya. 

Seperti biasanya kalau hari biasa dan sabtu, causeway Bay dan Victoria kurang begitu ramai, lain halnya bila hari Libur apalagi hari Minggu, terutama minggu kedua dan keempat.

Rini bertemu dengan beberapa orang orang Indonesia terutama para TKW yang ada disana, pukul sepuluh pagi dia sudah ada di taman Victoria, dirinya sempat berbincang binmcang dengan mereka tentang segala hal tentang Hong Kong.

Tetapi setelah hari mulai siang mereka mulai berpencar, sebahagian setelah bertemu dengan pacarnya kemudian pergi entah kemana, atau yang telah janjian akan shopping ataupun pergi ke Wan Chai untuk mendatangi Disco atau Pub yang memang pada hari sabtu dan minggu sengaja dibuka siang hari untuk para TKW yang hanya libur siang hari.

Sehingga ahirnya Rini tinggal sendirian duduk disebuah bangku besi dipojok taman Victoria, tanpa disadarinya seseorang yang dari tadi telah mengincar dan memperhatikannya.

Seorang pria asal Nepal mendatanginya, sambil duduk disampingnya, pria ini menyapanya dengan ramah sekali, menanyakannya dengan bahasa Hong Kong dan Inggris yang dicampur aduk, karena Rini sudah belajar sedikit demi sedikit bahasa Cantonesse, dia berusaha menjawab seadanya yang juga dicampur campur dengan bahasa Inggris dan bahasa Tarzan (baca bahasa isyarat).

Entah bagaimana caranya, mereka pun berusaha saling berkomunikasi, suatu saat si orang Nepal menanyakan ID card Hong Kong Rini.

Rini yang dengan polosnya menunjukkan dan memberikannya pada si Nepal, pria ini langsung memasukkan ID card tadi kedalam kantong celananya.

Rini yang menyadari kelengahannya kini kelabakan, berusaha meminta kembali tetapi bukannya mengembalikan malah si Nepal mengancamnya dengan mengatakan bahwa dengan ID card ini dia bisa mengetahui siapa dan dimana Employernya Rini, dia mengancam akan melaporkan Rini pada Employernya bahwa dirinya telah berbuat sesuatu kriminal dan akan melaporkannya pada polisi dengan barang bukti ID card tadi.

Mendengar kata kata ancaman itu terutama tentang Polisi, Rini langsung lemas tak berdaya, dirinya hanya bisa menangis dan memelas.

Rini teringat didaerahnya di Subang, masyarakat desa akan sangat ketakutan sekali bila berurusan dengan Polisi, karena mereka berpendapat kalau berurusan dengan Polisi buntutnya akan menjadi repot sekali, bisa bisa akan membutuhkan biaya yang sangat mahal untuk menyelesaikannya.

Padahal dia tidak tahu kalau Polisi Hong Kong sangat berbeda sekali mentalitasnya, mereka akan berusaha membantu setiap orang yang membutuhkan, KALAU BISA DIPERMUDAH MENGAPA HARUS DIPERSULIT…?! begitu prinsipnya…. kebalikannya dengan prinsip Polisi tetangga bukan…?!

Rini juga sangat ketakutan kalau dia akan mendapatkan masalah dengan Employernya, apalagi kalau sampai dia diberhentikan dan dipulangkan ke Indonesia.

Karena untuk bisa diberangkatkan ke Hong Kong Rini dan keluarganya telah mengeluarkan biaya yang cukup besar, mereka harus menggadaikan sawah yang selama ini diolah oleh Orang tuanya sebagai mata pencaharian utama, kalau sampai dia gagal, apa yang akan terjadi pada mereka semuanya tanpa sawah dan harus membayar uang pinjaman dari rentenir…?!

Rini lemas, dirinya benar benar tak tau harus berbuat apa, dirinya hanya bisa menyesali kebodohannya sendiri tanpa daya untuk melawan keadaan, karena dirinya tidak mendapat cukup pengetahuan tentang hak hak nya.

 Setelah beberapa saat, si Nepal yang merasa telah menguasai korbannya, mengajak Rini kesebuah Hotel tepatnya Guest House yang bisa di sewa perjam disekitar Causeway Bay, dengan iming iming kalau Rini menuruti kemauannya dirinya akan mengembalikan ID cardnya dan Rini akan bebas.

Rini tidak bodoh, dirinya mengerti apa yang dikehendaki si Nepal ini, tentunya si Nepal ini akan merenggut mahkota yang selama ini dipertahankannya, mahkota yang dijaga dan diagungkannya sebagai symbol kesucian seorang dara.

Rini telah berusaha melawan orang tuanya agar menikah diusia lima belas, seperti kebiasaan didesanya, Rini menolak dinikahkan dengan Lurah A at seorang lurah kaya dari tetangga desa Suka jadi.

Kini Rini harus dihadapkan pada kesulitan yang tidak pernah dibayangkannya sebelumnya, menyerahkan kesuciannya pada Pria yang sama sekali tidak disukai dan bahkan tidak dikenalnya sama sekali…?!

Setelah beberapa lama dan setelah si Nepal mengancam berpura pura akan menelepon Polisi, ahirnya Rini setuju mengikuti kemauan si Nepal.

Selama berjalan menuju Guest House, Rini selalu berdoa dan memohon lindungan, dirinya berdoa agar Tuhan melindunginya, mungkin dengan cara membuat si Nepal Impotent atau hal hal lainnya agar dirinya terlepas dari mala petaka ini.

Dirinya didalam hati menuntut pada yang Kuasa agar semua ibadah dan kebajikan yang telah diperbuatnya selama ini, bisa dibalaskan sekarang juga dengan membebaskannya dari kesulitan ini.

Tetapi ternyata Yang kuasa berkehendak lain….. Rini sedang dicoba dengan kesulitan, Rini yang terbangun dari pingsannya mendapati tubuhnya sudah tanpa busana tergolek lemah diatas tempat tidur, segera rasa sakit yang menyengat dirasakannya dari bagian tubuh yang paling pribadi, Rini mengingat kembali kejadian saat dirinya merasakan kesakitan yang luar biasa yang membuat dirinya tidak sadar beberapa saat tadi, dilihatnya si Nepal yang juga tanpa busana duduk santai di sofa sambil menghisap rokoknya, tersenyum dengan symbol kepuasan dan kemenangan, yang bagi Rini seperti sebuah seringai keberingasan.

Rini berusaha duduk, dilihatnya lumuran darah segar membasahi sebahagian tempat tidur, darah keperawanannya sendiri, dia bangkit kekamar mandi dan membersihkan tubuhnya.

Sekembalinya dari kamar mandi, ternyata si Nepal yang dari tadi memperhatikan tubuh telanjangnya bergairah kembali langsung menerkamnya, Rini berusaha berontak, tetapi kembali ancaman si Nepal membuatnya tidak berkutik, dia hanya bisa pasrah dan menangis menahan rasa sakit, sakit di kelaminnya … tetapi yang lebih sakit adalah sakit didalam sanubarinya yang sudah tidak suci lagi….

Setelah tiga kali si Nepal menggagahinya, Rini kembali menagih janji si nepal agar mengembalikan ID nya dan membiarkannya pergi…. tetapi dasar penjahat kelamin, si Nepal ingkar janji, dia malah mengatakan akan mengembalikan nya bila Rini membayarnya sejumlah uang.

Rini hanya punya empat ratus Hong Kong dollar yang dikumpulkannya dengan susah payah, sementara si Nepal memintanya membayar lima ribu, bila tidak dirinya akan menggagahi Rini kembali setiap Minggu, sampai uangnya ada.

Rini yang sudah habis semangatnya hanya bisa menangis dan menangis, kemudian berjalan lunglai meninggalkan si Nepal didalam kamar.

Sesampainya dirumah dia berusaha menyembunyikan tangisannya agar tidak diketahui oleh Employernya, dirinya berusaha menutupi masalahnya serapi mungkin.

Malamnya Rini tidak bisa memejamkan matanya sedetikpun, bayangan kelabu dan rasa sakit yang dialaminya terlalu perih untuk dilewatkan, dirinya marah marah pada nasib dan juga dirinya marah kepada Tuhan yang tak mau menolongnya saat kesusahan, dirinya berontak kepada kodrat, percuma saja dia berbuat baik selama ini, percuma saja semua hal hal yang dipelajarinya dan semua yang diyakininya selama ini, kalau saat membutuhkan ternyata tak bisa menolongnya…. itu yang dirasakannya saat itu.

Yang lebih menyesakkan Rini, minggu depan dirinya harus melewati hal itu lagi … dirinya harus rela digagahi si Nepal lagi, karena dia tak punya uang sebanyak itu, karena sebelum pergi si Nepal mengancamnya kembali, kalau mau selamat Rini harus bertemu dengan si Nepal setiap Minggu.

Rini berdiri dan melangkah kedepan cermin dikamarnya dipandangnya bayangan wajahnya sendiri, sudah tidak sama lagi seperti pagi ini, sudah tidak segar lagi, sudah layu bagaikan mawar yang telah tercemar asap dan debu dipinggir jalan.

Saat itulah terbersit dipikirannya untuk mengahiri hidupnya dengan terjun dari jendela kamarnya yang di lantai 28, tetapi seperti kebiasaan dan aturan Hong Kong, bahwa semua jendela harus ditutp dengan jeruji besi untuk menghindari tindakan bunuh diri, karena Hong Kong adalah negara kedua setelah Jepang dalam jumlah Bunuh diri.

Jendela kamar Rinipun ditutupi dengan jeruji besi.

ahirnya Rini pasrah… dihempaskannya tubuhnya kelantai begitu saja sambil bersandaran ditembok… ditengadahkannya wajahnya untuk menahan linangan airmata yang sedang tumpah… tetapi usahanya sia sia … aliran hangat airmata yang dirasakannya meleleh dipipinya.

Dia membenci nasibnya, membenci Lelaki, membenci dunia bahkan membenci semuanya termasuk sang Pencipta…..

Bersambung………

Advertisements

Read Full Post »