Feeds:
Posts
Comments

Archive for June 24th, 2009

Minggu ini Rini kembali meminta libur pada Employernya, dia juga menyatakan kalau dia ingin mendapatkan libur sekali setiap minggunya, karena sesuai permintaan si Nepal, dia harus bertemu setiap minggu.

Kali ini Rini mendapat hari libur tepat hari Minggu, sehingga ketika dirinya sampai di Causeway Bay sudah ramai sekali orang orang Indonesia disana, tepat di bangku tempat mereka janjian akan bertemu dengan si Nepal ada beberapa orang Hong Kong asal Indonesia duduk disana, sangat mudah diketahui karena mereka berbicara dalam bahasa Indonesia, sementara si Nepal belum muncul juga.

Terpaksa Rini hanya berdiri didekat bangku itu karena semua tempat sudah diduduki.

Salah seorang Pria itu berdiri dan mempersilahkan Rini duduk, meskipun Rini menolaknya sang Lelaki Indonesia itu memaksanya, ahirnya Rini duduk juga, itulah awal perkenalan Rini dengan A Fung.

Setelah beberapa saat Rini duduk dirinya tidak bisa menyembunyikan kesedihan dan kegalauan hatinya, meskipun dia berusaha tersenyum…. tetapi perlahan matanya berlinangan dengan air mata yang membuat para lelaki asal Indonesia itu jadi penasaran dan berusaha bertanya.

Pertama Rini berusaha menutupinya dengan mengatakan bahwa semuanya baik baik saja, tetapi semakin dia berusaha menahan, semakin deras airmatanya yang bercucuran.

Ahirnya A Fung mengajaknya pergi dari keramaian, A Fung menarik tangannya dan mengajaknya duduk disebuah tempat di pojokan yang jauh dari keramaian orang.

Dengan sangat sabar A Fung menanyakan apa masalah Rini, mungkin dirinya bisa membantu.

Setelah dibujuk terus, ahirnya Rini menceritakan semua yang terjadi pada A Fung, sedetail detailnya.

A Fung langsung marah mendengar hal ini, dia mengajak Rini menuju kantor Polisi, agar melaporkan hal ini agar si Nepal dipenjarakan atas tuntutan Pemerkosaan, tetapi Rini yang malah ketakutan dan memohon kepada A Fung agar bisa menyelesaikan masalah ini tanpa harus ke kantor Polisi, karena dia sangat kuatir bila hal ini sampai pada Employernya.

Yang penting bagi Rini adalah bagaimana caranya mendapatkan ID nya kembali dan si Nepal nggak akan mengganggunya lagi, soal kejadian yang sudah terlanjur dialaminya, tidak akan bisa diulang lagi untuk mengembalikan segalanya seperti semula.

A Fung tidak puas dengan kemauan Rini, tetapi ahirnya mereka kembali kepada teman teman A Fung, dirinya menceritakan masalahnya.

Mereka semua marah dan berusaha akan membalasnya, lalu sesuai permintaan Rini, mereka tidak akan melaporkannya pada polisi, tetapi mereka akan membuat perhitungan dengan cara mereka sendiri.

Saat itu beberapa orang Indonesia yang bekerja sebagai ABK kapal yang berbasis di Hong Kong ikut bergabung, kini semuanya ada sekitar dua belas orang lelaki.

Lantas mereka mengatur rencana, Rini diminta menelepon si Nepal untuk bertemu disebuah pojokan yang agak sepi di Taman Victoria arah Tin Hau yang dekat dengan Toilet didekat Swimming Pool, karena disana biasanya tidak begitu banyak orang dan jauh dari pantauan security.

 Rini menelepon si Nepal, yang dijawab dengan suka cita olehnya, karena dia sudah membayangkan akan dengan sepuasnya menikmati tubuh mulus Rini, dia juga tidak keberatan dengan permintaan Rini untuk bertemu dipojokan Tamn.

Kedua belas orang Lelaki Indonesia itu sengaja berpencar untuk mengurangi kecurigaan si Nepal, mereka sengaja duduk berjauhan agar tidak terlalu mencolok, tetapi semuanya sudah siap untuk membalaskan perbuatan biadab si Nepal.

Rini yang dari tadi duduk dengan gelisah menantikan kedatangan si Nepal, sedikit gemetaran begitu melihat sosok bangsat yang telah menggagahinya itu menghampirinya dengan senyum yang sumringah sekali.

Begitu si Nepal mendekat dan Rini memberikan kode tertentu pada A Fung yang tandanya itulah orang yang dinantikan, serentak keduabelas Lelaki Indonesia itu mengepungnya, si Nepal yang tidak menduganya langsung ketakutan dan pucat pasi.

Rini meminta ID cardnya pada si Nepal, tetapi si Nepal berdalih bahwa tidak ada padanya, dia menawarkan Rini agar mengikutinya untuk mengambilnya dirumahnya.

Tetapi A Fung yang sudah mengerti tipu muslihat si Nepal, langsung menggertaknya agar mengeluarkan dompetnya, kalau tidak mereka akan menghajarnya ramai ramai.

Mendengar ancaman ini si Nepal masih sempat membalas menggertak bahwa dia akan melaporkan pada Polisi bila mereka memukulnya, tetapi A Fung hanya tertawa dan membalas bahwa dirinyalah yang akan melaporkan si Nepal kepada Polisi karena telah menipu dan memperkosa Rini, lagipula dua orang anak A Fung adalah Polisi di CID Hong Kong.

Mendengar hal ini si Nepal merasa terpojok, tetapi dia nggak kehabisan akal, mengatakan bahwa ID card Rini ada di Rumahnya dan menawarkan agar Rini pergi bersamanya kerumahnya untuk mengambilnya.

A Fung sama sekali tidak percaya pada si Nepal, dia mengatakan agar mereka beramai ramai saja ke rumah si Nepal, mendengar ini si Nepal kelihatan ragu ragu, mungkin dia juga takut perbuatan buruknya sampai diketahui keluarganya.

Tetapi sebenarnya A Fung merasa yakin kalau ID card Rini ada didompet siNepal, maka dia berusaha mendesak si Nepal, tetapi dia berkeras nggak mau mengeluarkan dompetnya dan berusaha berlalu meninggalkan mereka, tetapi langsung di tangkap oleh A Chong Lelaki asal Teeling manado tetapi sudah jadi warga negara Hong Kong.

Karena tingkah laku si Nepal yang nggak mau kerja sama, ahirnya kemarahan mereka tidak bisa terbendung lagi, Ashok awak kapal yang berasal dari Tanjung pinang melayangkan tinjunya pertamakali tepat dimata kiri si Nepal, dia langsung terhuyung dan berteriak minta ampun, darah segar langsung mengucur dari pelipisnya karena Ashok mengenakan cincin stainless steel dijarinya.

Tak ayal lagi pukulan Ashok bagaikan isyarat mulai bagi mereka semua, mereka berebut memukul dan menendang si Nepal sepuasnya, si Nepal yang sudah tak berdaya tergolek di jalan masih diinjak injak sampai puas, mereka tak menghiraukan teriakan Rini agar mereka berhenti kalau tidak mungkin si Nepal akan mati.

Setelah si Nepal benar benar pingsan, mereka mengambil dompet si Nepal dan memerikasanya, benar sekali ID Rini ada disana, juga ada dua ID card yang lain yang juga atas nama TKW asal Indonesia.

Hal ini membakar kemarahan mereka kembali, ternyata sudah banyak korban si Nepal.

Achong yang dari tadi Cuma memperhatikan mereka memukuli si Nepal, kini tak bisa lagi menahan emosi, dia langsung menendang tubuh si Nepal berkali kali ke arah rusuk si Nepal yang tergolek lemah, sampai terdengar bunyi Krek..!!! mungkin tulang rusuk si Nepal ada yang patah.

Segera mereka menahan A Chong jangan sampai si Nepal tewas, mereka semua akan dapat kesulitan.

Rudi mengambil air dari toilet, dengan menggunakan ember pembersih lantai, dia membawa seember air dan menyiramkannya ke tubuh si Nepal.

Si Nepal segera sadar dan masih mengerang kesakitan, A Fung mengangkat kepalanya dan mengancamnya agar tidak melaporkan pada siapapun atas kejadian ini, kalau tidak mungkin lain kali si Nepal akan dihabisi.

Merekapun bubar dan meninggalkan si Nepal sendirian setelah membaringkannya disebuah bangku besi.

Ahirnya si Nepal ditemukan Security Taman Victoria dan dibantu menuju Rumah sakit, tetapi si Nepal mengatakan kalau dirinya terpeleset dan terjatuh, mungkin karena dia juga takut dan menyadari kesalahannya.

Mereka berjanji agar semuanya tidak mengunjungi Victoria Park selama sebulan atau sampai keadaan benar benar dianggap aman

Sejak itulah Rini dan A Fung menjadi akrab dan entah bagaimana caranya ahirnya mereka jadi berpacaran.

Berkat bimbingan A Fung, Rini bisa sedikit demi sedikit melupakan masa lalunya, melupakan tragedi yang pernah dialaminya, dirinya berusaha menikmati hidup dan kemesraan bersama A Fung.

A Fung benar benar sayang pada Rini, mereka bertemu setipa ada kesempatan Rini liburan, sesekali A Fung memberi uang untuk keperluan Rini, selain pulsa telepon yang sudah menjadi hal rutine a Fung yang membayar tagihan bulanan.

Bila suatu waktu Rini memerlukan dana untuk dikirimkan pada orangtuanya di Subang sana, A Fung tak segan segan membantunya.

Ada satu hal yang sangat menarik perhatian saya tentang Rini, yaitu system investasinya yang sedikit aneh tetapi berhasil.

Kalau biasanya TKW akan menginvestasikan pada beli sawah/tanah atau membangun rumah yang besar di kampungnya, Rini malah menginvestasikan uangnya pada Sapi.

Ya…, Rini membeli anak sapi betina dengan harga sekisaran lima sampai enam juta rupiah, kemudian dititipkan pada saudara atau tetangganya untuk di pelihara sampai besar, bila nanti besar dan beranak, maka ada aturan main yang mereka sepakati, yaitu anak pertama untuk Rini, anak kedua buat si Pemelihara…. begitu seterusnya.

Ketika Rini menceritakannya pada saya dirinya sudah memiliki enambelas ekor Sapi, yang setengahnya adalah milik A Fung, atau modalnya dari A Fung.

Saya membayangkan resiko dan berapa lamanya untuk membesarkan seekor sapi sampai menjadi besar, tetapi mungkin untuk ukuran di desa, ternyata mereka berhasil, belum ada sapi milik Rini yang sampai meninggal.

Menurut Rini harga sapi yang sudah dewasa bisa mencapai tiga belas juta seekornya.

Saya sangat salut pada semangat Rini yang dengan caranya sendiri bisa melupakan tragedi, bisa bangkit kembali meniti hari harinya, memulai hidup baru dengan semangat, menikmati setiap detik waktu yang bisa dimanfaatkan.

Rini dengan terus terang mengaku pada saya bahwa dirinya bahagia bersama A Fung, meskipun dia sadar suatu saat dia harus Meninggalkan A Fung demi masa depan, tetapi untuk saat ini dirinya berusaha menikmatinya bersama A Fung, bahkan Rini mengaku kalau dirinya sudah sangat membutuhkan kasih sayang dari A Fung, termasuk sex pun sudah menjadi kebutuhan yang utama baginya.

Beberapa hari yang lalu…. saya bertemu kembali dengan Rini, masih bersama A Fung.

Seperti biasanya bila saya bertemu teman lama yang lama nggak bertemu, saya mengundang A Fung dan Rini untuk makan bersama di restaurant Indonesia kesukaan saya yaitu Padang Restaurant di Causeway bay.

Sambil menantikan pesanan kami datang, A Fung dan Rini bercerita banyak tentang perkembangan Hong Kong, juga perkembangan Rini.

Ternyata hal yang selama ini dikeluhkan Rini pada saya yaitu tentang statusnya yang mengambang, dibilang janda belum pernah menikah…. dibilang gadis dirinya sudah tidak suci… dia ingin kepastian.

Ahirnya Rini menemukan solusinya, tentunya dengan cara dia sendiri yang kurang masuk akal bagi saya.

Rini ternyata sudah menikah awal tahun ini di Subang dengan seorang Pria yang sudah punya dua orang Istri.

Anehnya semua biaya menikah ditanggung oleh Rini, A Fung mengatakan kalau Rini telah menghabiskan biaya tidak kurang dari HKD 35.000,- hanya untuk pestanya saja.

Biaya tambahan untuk pakaian pengantin dan lain halnya juga cukup besar.

Yang lebih konyol lagi adalah Rini juga menghabiskan biaya sekitar HKD 4.000,- untuk membeli obat dari dukun atau Mbah Edi atau siapapun itu namanya yang katanya bisa mengembalikan keperawanan, agar suaminya mengira bahwa dirinya masih suci alias Perawan.

Saya Cuma bisa geleng geleng kepala sambil tersenyum kecut, ternyata masih banyak yang tega memanfaatkan kesulitan dan kebodohan orang lain untuk mencari keuntungan sendiri, dan orang orang seperti Rini rela menghabiskan biaya besar untuk sekedar omong kosong dan janji muluk itu. 

Dalam hati pikiran iseng saya berkata “ kenapa nggak minta ke dokter aja biar dioperasi dan dijahit rapat sekalian sampai mampet..!!! mungkin biayanya nggak akan sebesar itu…”

Lagian pula bukankah suaminya sudah beristri dua…?! mengapa masih menuntut keperawanan lagi…?! Bah..!!! curang.. !!! ini sungguh nggak adil…!!!

Anehnya dan bikin saya sempoyongan…. ternyata semua itu dilakukan Rini hanya demi sebuah Status…!!! yaitu JANDA ……!!!

Karena dua minggu setelah menikah, Rini sudah kembali ke Hong Kong, dan Rini langsung menghubungi seorang Pengacara untuk menguruskan perceraiannya …..

Saya benar benar nggak habis pikir…. A Fung juga nggak mengerti…..

Apa yang kamu pikirkan Rini…?!

Advertisements

Read Full Post »