Feeds:
Posts
Comments

Archive for June, 2009

DSCN0979DSCN0973DSCN0975

Hari libur apalagi hari Minggu di Causeway bay serasa seperti di Indonesia, wajah wajah Indonesia dan bahasa Jawa yang sangat dominan terdengar dimana mana…. Photo photo yang ada disini bukan di Pasar pasar diIndonesia … bukan Pasar Johar Semarang, Pasar Turi atau Pasara klewer… tetapi di Cause way bay Hong Kong.

 

Ada beberapa hal yang terjadi pada TKW pada beberapa waktu  ini….

***Sanirah Meskan (34Thn) asal Ponorogo, meninggal dunia karena tertimpa sebuah Kasur lipat yang berukuran besar… Kasur lipat yang biasa dilipat keatas mestinya diderek sampai keadaan terkunci, untuk memudahkan membersihkan lantai dibawahnya dan memberi ruang lebih, ternyata sebelum benar benar terkunci, Sanirah sudah memulai membersihkan lantai dibawahnya, sehingga ketika Kasur terjatuh kembali… langsung menimpa Sanirah hingga Meninggal… hal ini baru diketahui Employernya setelah mereka pulang kerumah, karena saat kejadian Sanirah hanya seorang diri.

DSCN0970

 

DSCN0965

***Ada Melati (23Thn) asal Lampung, terpaksa dipulangkan setelah hamil tujuh bulan… celakanya dirinya melakukan hubungan intim dengan dua orang lelaki, seorang Pakistan dan seorang Hong Kong… sehingga dia pun tak tau pasti siapa Ayah si Jabang bayi…. ketika dirinya mencoba menghubungi dua orang lelaki tersebut, mereka tak menanggapinya setelah mengetahui dirinya Hamil….

 

***Adalagi Indra Ningsih (26thn) ditahan kepolisian Hong Kong, karena Employernya memergokinya memasukkan Pembalut wanita berikut darah Haidnya kedalam makanan yang akan dihidangkan untuk keluarga……

Ketika ditanyai … Indra mengatakan karena Employernya terlalu cerewet… parahnya Indra Ningsih juga membuat pernyataan bahwa sudah menjadi kebiasaan semua TKW asal Indonesia melakukannya pada semua Employer yang cerewet… ini bisa menjadi preseden buruk bagi yang lainnya….

 

DSCN0987

*** Siti Kumaeroh (30 Thn) asal desa Bangun Rejo, kecamatan Patebon- Kendal Jawa Tengah, melarikan diri dari rumah Employernya karena sering disiksa … pipinya sering dipukuli dengan Sandal… jam kerjanya juga sangat berlebihan…

Siti harus bangun dan mulai bekerja jam 4 pagi… berhenti pada jam satu atau dua pagi… hanya dua jam istirahat…. keterlaluan….

 

 

 

DSCN0989DSCN1001

 

 

 

 

DSCN1012

Read Full Post »

Minggu ini Rini kembali meminta libur pada Employernya, dia juga menyatakan kalau dia ingin mendapatkan libur sekali setiap minggunya, karena sesuai permintaan si Nepal, dia harus bertemu setiap minggu.

Kali ini Rini mendapat hari libur tepat hari Minggu, sehingga ketika dirinya sampai di Causeway Bay sudah ramai sekali orang orang Indonesia disana, tepat di bangku tempat mereka janjian akan bertemu dengan si Nepal ada beberapa orang Hong Kong asal Indonesia duduk disana, sangat mudah diketahui karena mereka berbicara dalam bahasa Indonesia, sementara si Nepal belum muncul juga.

Terpaksa Rini hanya berdiri didekat bangku itu karena semua tempat sudah diduduki.

Salah seorang Pria itu berdiri dan mempersilahkan Rini duduk, meskipun Rini menolaknya sang Lelaki Indonesia itu memaksanya, ahirnya Rini duduk juga, itulah awal perkenalan Rini dengan A Fung.

Setelah beberapa saat Rini duduk dirinya tidak bisa menyembunyikan kesedihan dan kegalauan hatinya, meskipun dia berusaha tersenyum…. tetapi perlahan matanya berlinangan dengan air mata yang membuat para lelaki asal Indonesia itu jadi penasaran dan berusaha bertanya.

Pertama Rini berusaha menutupinya dengan mengatakan bahwa semuanya baik baik saja, tetapi semakin dia berusaha menahan, semakin deras airmatanya yang bercucuran.

Ahirnya A Fung mengajaknya pergi dari keramaian, A Fung menarik tangannya dan mengajaknya duduk disebuah tempat di pojokan yang jauh dari keramaian orang.

Dengan sangat sabar A Fung menanyakan apa masalah Rini, mungkin dirinya bisa membantu.

Setelah dibujuk terus, ahirnya Rini menceritakan semua yang terjadi pada A Fung, sedetail detailnya.

A Fung langsung marah mendengar hal ini, dia mengajak Rini menuju kantor Polisi, agar melaporkan hal ini agar si Nepal dipenjarakan atas tuntutan Pemerkosaan, tetapi Rini yang malah ketakutan dan memohon kepada A Fung agar bisa menyelesaikan masalah ini tanpa harus ke kantor Polisi, karena dia sangat kuatir bila hal ini sampai pada Employernya.

Yang penting bagi Rini adalah bagaimana caranya mendapatkan ID nya kembali dan si Nepal nggak akan mengganggunya lagi, soal kejadian yang sudah terlanjur dialaminya, tidak akan bisa diulang lagi untuk mengembalikan segalanya seperti semula.

A Fung tidak puas dengan kemauan Rini, tetapi ahirnya mereka kembali kepada teman teman A Fung, dirinya menceritakan masalahnya.

Mereka semua marah dan berusaha akan membalasnya, lalu sesuai permintaan Rini, mereka tidak akan melaporkannya pada polisi, tetapi mereka akan membuat perhitungan dengan cara mereka sendiri.

Saat itu beberapa orang Indonesia yang bekerja sebagai ABK kapal yang berbasis di Hong Kong ikut bergabung, kini semuanya ada sekitar dua belas orang lelaki.

Lantas mereka mengatur rencana, Rini diminta menelepon si Nepal untuk bertemu disebuah pojokan yang agak sepi di Taman Victoria arah Tin Hau yang dekat dengan Toilet didekat Swimming Pool, karena disana biasanya tidak begitu banyak orang dan jauh dari pantauan security.

 Rini menelepon si Nepal, yang dijawab dengan suka cita olehnya, karena dia sudah membayangkan akan dengan sepuasnya menikmati tubuh mulus Rini, dia juga tidak keberatan dengan permintaan Rini untuk bertemu dipojokan Tamn.

Kedua belas orang Lelaki Indonesia itu sengaja berpencar untuk mengurangi kecurigaan si Nepal, mereka sengaja duduk berjauhan agar tidak terlalu mencolok, tetapi semuanya sudah siap untuk membalaskan perbuatan biadab si Nepal.

Rini yang dari tadi duduk dengan gelisah menantikan kedatangan si Nepal, sedikit gemetaran begitu melihat sosok bangsat yang telah menggagahinya itu menghampirinya dengan senyum yang sumringah sekali.

Begitu si Nepal mendekat dan Rini memberikan kode tertentu pada A Fung yang tandanya itulah orang yang dinantikan, serentak keduabelas Lelaki Indonesia itu mengepungnya, si Nepal yang tidak menduganya langsung ketakutan dan pucat pasi.

Rini meminta ID cardnya pada si Nepal, tetapi si Nepal berdalih bahwa tidak ada padanya, dia menawarkan Rini agar mengikutinya untuk mengambilnya dirumahnya.

Tetapi A Fung yang sudah mengerti tipu muslihat si Nepal, langsung menggertaknya agar mengeluarkan dompetnya, kalau tidak mereka akan menghajarnya ramai ramai.

Mendengar ancaman ini si Nepal masih sempat membalas menggertak bahwa dia akan melaporkan pada Polisi bila mereka memukulnya, tetapi A Fung hanya tertawa dan membalas bahwa dirinyalah yang akan melaporkan si Nepal kepada Polisi karena telah menipu dan memperkosa Rini, lagipula dua orang anak A Fung adalah Polisi di CID Hong Kong.

Mendengar hal ini si Nepal merasa terpojok, tetapi dia nggak kehabisan akal, mengatakan bahwa ID card Rini ada di Rumahnya dan menawarkan agar Rini pergi bersamanya kerumahnya untuk mengambilnya.

A Fung sama sekali tidak percaya pada si Nepal, dia mengatakan agar mereka beramai ramai saja ke rumah si Nepal, mendengar ini si Nepal kelihatan ragu ragu, mungkin dia juga takut perbuatan buruknya sampai diketahui keluarganya.

Tetapi sebenarnya A Fung merasa yakin kalau ID card Rini ada didompet siNepal, maka dia berusaha mendesak si Nepal, tetapi dia berkeras nggak mau mengeluarkan dompetnya dan berusaha berlalu meninggalkan mereka, tetapi langsung di tangkap oleh A Chong Lelaki asal Teeling manado tetapi sudah jadi warga negara Hong Kong.

Karena tingkah laku si Nepal yang nggak mau kerja sama, ahirnya kemarahan mereka tidak bisa terbendung lagi, Ashok awak kapal yang berasal dari Tanjung pinang melayangkan tinjunya pertamakali tepat dimata kiri si Nepal, dia langsung terhuyung dan berteriak minta ampun, darah segar langsung mengucur dari pelipisnya karena Ashok mengenakan cincin stainless steel dijarinya.

Tak ayal lagi pukulan Ashok bagaikan isyarat mulai bagi mereka semua, mereka berebut memukul dan menendang si Nepal sepuasnya, si Nepal yang sudah tak berdaya tergolek di jalan masih diinjak injak sampai puas, mereka tak menghiraukan teriakan Rini agar mereka berhenti kalau tidak mungkin si Nepal akan mati.

Setelah si Nepal benar benar pingsan, mereka mengambil dompet si Nepal dan memerikasanya, benar sekali ID Rini ada disana, juga ada dua ID card yang lain yang juga atas nama TKW asal Indonesia.

Hal ini membakar kemarahan mereka kembali, ternyata sudah banyak korban si Nepal.

Achong yang dari tadi Cuma memperhatikan mereka memukuli si Nepal, kini tak bisa lagi menahan emosi, dia langsung menendang tubuh si Nepal berkali kali ke arah rusuk si Nepal yang tergolek lemah, sampai terdengar bunyi Krek..!!! mungkin tulang rusuk si Nepal ada yang patah.

Segera mereka menahan A Chong jangan sampai si Nepal tewas, mereka semua akan dapat kesulitan.

Rudi mengambil air dari toilet, dengan menggunakan ember pembersih lantai, dia membawa seember air dan menyiramkannya ke tubuh si Nepal.

Si Nepal segera sadar dan masih mengerang kesakitan, A Fung mengangkat kepalanya dan mengancamnya agar tidak melaporkan pada siapapun atas kejadian ini, kalau tidak mungkin lain kali si Nepal akan dihabisi.

Merekapun bubar dan meninggalkan si Nepal sendirian setelah membaringkannya disebuah bangku besi.

Ahirnya si Nepal ditemukan Security Taman Victoria dan dibantu menuju Rumah sakit, tetapi si Nepal mengatakan kalau dirinya terpeleset dan terjatuh, mungkin karena dia juga takut dan menyadari kesalahannya.

Mereka berjanji agar semuanya tidak mengunjungi Victoria Park selama sebulan atau sampai keadaan benar benar dianggap aman

Sejak itulah Rini dan A Fung menjadi akrab dan entah bagaimana caranya ahirnya mereka jadi berpacaran.

Berkat bimbingan A Fung, Rini bisa sedikit demi sedikit melupakan masa lalunya, melupakan tragedi yang pernah dialaminya, dirinya berusaha menikmati hidup dan kemesraan bersama A Fung.

A Fung benar benar sayang pada Rini, mereka bertemu setipa ada kesempatan Rini liburan, sesekali A Fung memberi uang untuk keperluan Rini, selain pulsa telepon yang sudah menjadi hal rutine a Fung yang membayar tagihan bulanan.

Bila suatu waktu Rini memerlukan dana untuk dikirimkan pada orangtuanya di Subang sana, A Fung tak segan segan membantunya.

Ada satu hal yang sangat menarik perhatian saya tentang Rini, yaitu system investasinya yang sedikit aneh tetapi berhasil.

Kalau biasanya TKW akan menginvestasikan pada beli sawah/tanah atau membangun rumah yang besar di kampungnya, Rini malah menginvestasikan uangnya pada Sapi.

Ya…, Rini membeli anak sapi betina dengan harga sekisaran lima sampai enam juta rupiah, kemudian dititipkan pada saudara atau tetangganya untuk di pelihara sampai besar, bila nanti besar dan beranak, maka ada aturan main yang mereka sepakati, yaitu anak pertama untuk Rini, anak kedua buat si Pemelihara…. begitu seterusnya.

Ketika Rini menceritakannya pada saya dirinya sudah memiliki enambelas ekor Sapi, yang setengahnya adalah milik A Fung, atau modalnya dari A Fung.

Saya membayangkan resiko dan berapa lamanya untuk membesarkan seekor sapi sampai menjadi besar, tetapi mungkin untuk ukuran di desa, ternyata mereka berhasil, belum ada sapi milik Rini yang sampai meninggal.

Menurut Rini harga sapi yang sudah dewasa bisa mencapai tiga belas juta seekornya.

Saya sangat salut pada semangat Rini yang dengan caranya sendiri bisa melupakan tragedi, bisa bangkit kembali meniti hari harinya, memulai hidup baru dengan semangat, menikmati setiap detik waktu yang bisa dimanfaatkan.

Rini dengan terus terang mengaku pada saya bahwa dirinya bahagia bersama A Fung, meskipun dia sadar suatu saat dia harus Meninggalkan A Fung demi masa depan, tetapi untuk saat ini dirinya berusaha menikmatinya bersama A Fung, bahkan Rini mengaku kalau dirinya sudah sangat membutuhkan kasih sayang dari A Fung, termasuk sex pun sudah menjadi kebutuhan yang utama baginya.

Beberapa hari yang lalu…. saya bertemu kembali dengan Rini, masih bersama A Fung.

Seperti biasanya bila saya bertemu teman lama yang lama nggak bertemu, saya mengundang A Fung dan Rini untuk makan bersama di restaurant Indonesia kesukaan saya yaitu Padang Restaurant di Causeway bay.

Sambil menantikan pesanan kami datang, A Fung dan Rini bercerita banyak tentang perkembangan Hong Kong, juga perkembangan Rini.

Ternyata hal yang selama ini dikeluhkan Rini pada saya yaitu tentang statusnya yang mengambang, dibilang janda belum pernah menikah…. dibilang gadis dirinya sudah tidak suci… dia ingin kepastian.

Ahirnya Rini menemukan solusinya, tentunya dengan cara dia sendiri yang kurang masuk akal bagi saya.

Rini ternyata sudah menikah awal tahun ini di Subang dengan seorang Pria yang sudah punya dua orang Istri.

Anehnya semua biaya menikah ditanggung oleh Rini, A Fung mengatakan kalau Rini telah menghabiskan biaya tidak kurang dari HKD 35.000,- hanya untuk pestanya saja.

Biaya tambahan untuk pakaian pengantin dan lain halnya juga cukup besar.

Yang lebih konyol lagi adalah Rini juga menghabiskan biaya sekitar HKD 4.000,- untuk membeli obat dari dukun atau Mbah Edi atau siapapun itu namanya yang katanya bisa mengembalikan keperawanan, agar suaminya mengira bahwa dirinya masih suci alias Perawan.

Saya Cuma bisa geleng geleng kepala sambil tersenyum kecut, ternyata masih banyak yang tega memanfaatkan kesulitan dan kebodohan orang lain untuk mencari keuntungan sendiri, dan orang orang seperti Rini rela menghabiskan biaya besar untuk sekedar omong kosong dan janji muluk itu. 

Dalam hati pikiran iseng saya berkata “ kenapa nggak minta ke dokter aja biar dioperasi dan dijahit rapat sekalian sampai mampet..!!! mungkin biayanya nggak akan sebesar itu…”

Lagian pula bukankah suaminya sudah beristri dua…?! mengapa masih menuntut keperawanan lagi…?! Bah..!!! curang.. !!! ini sungguh nggak adil…!!!

Anehnya dan bikin saya sempoyongan…. ternyata semua itu dilakukan Rini hanya demi sebuah Status…!!! yaitu JANDA ……!!!

Karena dua minggu setelah menikah, Rini sudah kembali ke Hong Kong, dan Rini langsung menghubungi seorang Pengacara untuk menguruskan perceraiannya …..

Saya benar benar nggak habis pikir…. A Fung juga nggak mengerti…..

Apa yang kamu pikirkan Rini…?!

Read Full Post »

ahirnya Rini pasrah… dihempaskannya tubuhnya kelantai begitu saja sambil bersandaran ditembok… ditengadahkannya wajahnya untuk menahan linangan airmata yang sedang tumpah… tetapi usahanya sia sia … aliran hangat airmata yang dirasakannya meleleh dipipinya.

Namanya Rini, saya sendiri nggak tau apakah itu nama lengkapnya atau hanya singkatan saja, karena sayapun tidak pernah berusaha untuk menanyakannya.

Sebenarnya saya kurang begitu dekat dengan Rini…. tetapi karena sering bertemu dengannya dan juga sering mendengar cerita cerita tentang hal hal yang pernah dialaminya, membuat saya sangat tertarik dan menaruh simpaty padanya.

Rini sudah sepuluh tahun lebih bekerja di Hong Kong, sebenarnya sesuai undang undang keimigrasian Hong Kong, Rini sudah berhak untuk mendapatkan Passport Hong Kong atau menjadi warga negara Hong Kong, karena sesuai undang undang Hong Kong, setiap orang yang tinggal secara continu selama lebih dari tujuh tahun lamanya, berhak untuk mengajukan diri menjadi warga negara Hong Kong yang sekaligus mendapatkan Passport dan ID Hong Kong.

Rini mempunyai Pacar seorang warga negara Hong Kong yang berasal dari Indonesia namanya A Fung, sayang A fung sudah berkeluarga dan Rini mengetahui hal ini sejak awal mereka berkenalan.

Suatu kali saya pernah bertanya pada Rini, apa yang direncanakannya terhadap masa depan, maksud saya apakah dirinya mengerti dan menyadari apa yang sedang dilakukannya dengan A Fung yang sudah beristri.

Rini menjawab dengan pasti bahwa dirinya sepenuhnya sadar dan mengerti dengan status A Fung, dan dia pun mengatakan pada saya bahwa dia sedikitpun tidak bermaksud akan merebut A Fung dari keluarganya, cukup hanya berpacaran saja dengan A Fung, dan hal ini sudah berjalan sekitar sepuluh tahun juga.

Rini sampai di Hong Kong di usia yang masih muda, sekitar delapan belas tahun.

Seperti kebanyakan TKW lainnya yang ada di hong Kong, pertama kali sampai di sini, tanpa bekal pengetahuan yang cukup, baik bahasa, tata cara hidup apalagi tentang hak hak nya.

Setiap hari Minggu kadang Sabtu, Rini mendapat hari libur, seperti peraturan pemerintah Hong Kong, mulai pagi sampai pukul sepuluh malam mereka bebas hendak pergi kemana saja sesuka hati.

Selama tiga bulan Rini hanya duduk duduk sekitar taman disekitar kompleks perumahan tempatnya bekerja, atau kadang hanya tiduran didalam rumah.

Dirinya tidak berani pergi jauh jauh, karena belum tau alamat dan liku liku Hong Kong, terlebih lagi saat itu dirinya masih dalam masa potongan gaji selama tujuh bulan, sehingga yang tersisa hanya sekitar tiga ratus dollar Hong Kong saja setiap bulannya, yang harus digunakan untuk segala macam keperluannya.

Tugas utama Rini adalah mengasuh Bayi yang baru berusia dua bulan, disamping urusan rumah tangga lainnya tentunya.

Sering kali Rini tidak keluar rumah disaat liburan Hari Minggu, membuat Employernya merasa sympati, sehingga kadang sekalian mereka meminta Rini untuk menjaga bayi mereka agar mereka dapat memanfaatkan hari Minggunya untuk bepergian dan bersantai, maklum mereka adalah pasangan muda yang sedang mencapai masa masa puncak gairahnya.

Tetapi mereka membayar Rini extra untuk hal ini, setiap hari Minggu Rini tinggal dirumah mereka membayar HKD 150,-.

Setelah beberapa hari Minggu, Rini bisa sedikit sedikit mengumpulkan uang extranya, hal ini membuatnya punya keinginan untuk mengetahui keadaan kota Hong Kong, dia ingin melihat Causeway bay yang menurut Mbak sebelah rumahnya adalah tempat berkumpulnya orang orang Indonesia di Hong Kong.

Suatu hari Rini mengutarakan niatnya itu pada Employernya, dia mengatakan ingin berlibur karena ingin mengunjungi Causeway Bay terutama Victoria Park, Employernya pun mengetahui hal itu, sehingga memakluminya, tetapi mereka memintanya agar berlibur hari Sabtu saja karena mereka ingin bepergian dihari Minggu, hal ini langsung disetujui oleh Rini, karena baginya yang penting adalah bisa melihat Causeway Bay dan taman Victoria, hari apa bukan menjadi masalah.

Jadilah hari itu hari Sabtu, Rini pergi ke Causeway Bay, hari yang kelabu, terjadi nya malapetaka yang tidak akan pernah dilupakan seumur hidupnya. 

Seperti biasanya kalau hari biasa dan sabtu, causeway Bay dan Victoria kurang begitu ramai, lain halnya bila hari Libur apalagi hari Minggu, terutama minggu kedua dan keempat.

Rini bertemu dengan beberapa orang orang Indonesia terutama para TKW yang ada disana, pukul sepuluh pagi dia sudah ada di taman Victoria, dirinya sempat berbincang binmcang dengan mereka tentang segala hal tentang Hong Kong.

Tetapi setelah hari mulai siang mereka mulai berpencar, sebahagian setelah bertemu dengan pacarnya kemudian pergi entah kemana, atau yang telah janjian akan shopping ataupun pergi ke Wan Chai untuk mendatangi Disco atau Pub yang memang pada hari sabtu dan minggu sengaja dibuka siang hari untuk para TKW yang hanya libur siang hari.

Sehingga ahirnya Rini tinggal sendirian duduk disebuah bangku besi dipojok taman Victoria, tanpa disadarinya seseorang yang dari tadi telah mengincar dan memperhatikannya.

Seorang pria asal Nepal mendatanginya, sambil duduk disampingnya, pria ini menyapanya dengan ramah sekali, menanyakannya dengan bahasa Hong Kong dan Inggris yang dicampur aduk, karena Rini sudah belajar sedikit demi sedikit bahasa Cantonesse, dia berusaha menjawab seadanya yang juga dicampur campur dengan bahasa Inggris dan bahasa Tarzan (baca bahasa isyarat).

Entah bagaimana caranya, mereka pun berusaha saling berkomunikasi, suatu saat si orang Nepal menanyakan ID card Hong Kong Rini.

Rini yang dengan polosnya menunjukkan dan memberikannya pada si Nepal, pria ini langsung memasukkan ID card tadi kedalam kantong celananya.

Rini yang menyadari kelengahannya kini kelabakan, berusaha meminta kembali tetapi bukannya mengembalikan malah si Nepal mengancamnya dengan mengatakan bahwa dengan ID card ini dia bisa mengetahui siapa dan dimana Employernya Rini, dia mengancam akan melaporkan Rini pada Employernya bahwa dirinya telah berbuat sesuatu kriminal dan akan melaporkannya pada polisi dengan barang bukti ID card tadi.

Mendengar kata kata ancaman itu terutama tentang Polisi, Rini langsung lemas tak berdaya, dirinya hanya bisa menangis dan memelas.

Rini teringat didaerahnya di Subang, masyarakat desa akan sangat ketakutan sekali bila berurusan dengan Polisi, karena mereka berpendapat kalau berurusan dengan Polisi buntutnya akan menjadi repot sekali, bisa bisa akan membutuhkan biaya yang sangat mahal untuk menyelesaikannya.

Padahal dia tidak tahu kalau Polisi Hong Kong sangat berbeda sekali mentalitasnya, mereka akan berusaha membantu setiap orang yang membutuhkan, KALAU BISA DIPERMUDAH MENGAPA HARUS DIPERSULIT…?! begitu prinsipnya…. kebalikannya dengan prinsip Polisi tetangga bukan…?!

Rini juga sangat ketakutan kalau dia akan mendapatkan masalah dengan Employernya, apalagi kalau sampai dia diberhentikan dan dipulangkan ke Indonesia.

Karena untuk bisa diberangkatkan ke Hong Kong Rini dan keluarganya telah mengeluarkan biaya yang cukup besar, mereka harus menggadaikan sawah yang selama ini diolah oleh Orang tuanya sebagai mata pencaharian utama, kalau sampai dia gagal, apa yang akan terjadi pada mereka semuanya tanpa sawah dan harus membayar uang pinjaman dari rentenir…?!

Rini lemas, dirinya benar benar tak tau harus berbuat apa, dirinya hanya bisa menyesali kebodohannya sendiri tanpa daya untuk melawan keadaan, karena dirinya tidak mendapat cukup pengetahuan tentang hak hak nya.

 Setelah beberapa saat, si Nepal yang merasa telah menguasai korbannya, mengajak Rini kesebuah Hotel tepatnya Guest House yang bisa di sewa perjam disekitar Causeway Bay, dengan iming iming kalau Rini menuruti kemauannya dirinya akan mengembalikan ID cardnya dan Rini akan bebas.

Rini tidak bodoh, dirinya mengerti apa yang dikehendaki si Nepal ini, tentunya si Nepal ini akan merenggut mahkota yang selama ini dipertahankannya, mahkota yang dijaga dan diagungkannya sebagai symbol kesucian seorang dara.

Rini telah berusaha melawan orang tuanya agar menikah diusia lima belas, seperti kebiasaan didesanya, Rini menolak dinikahkan dengan Lurah A at seorang lurah kaya dari tetangga desa Suka jadi.

Kini Rini harus dihadapkan pada kesulitan yang tidak pernah dibayangkannya sebelumnya, menyerahkan kesuciannya pada Pria yang sama sekali tidak disukai dan bahkan tidak dikenalnya sama sekali…?!

Setelah beberapa lama dan setelah si Nepal mengancam berpura pura akan menelepon Polisi, ahirnya Rini setuju mengikuti kemauan si Nepal.

Selama berjalan menuju Guest House, Rini selalu berdoa dan memohon lindungan, dirinya berdoa agar Tuhan melindunginya, mungkin dengan cara membuat si Nepal Impotent atau hal hal lainnya agar dirinya terlepas dari mala petaka ini.

Dirinya didalam hati menuntut pada yang Kuasa agar semua ibadah dan kebajikan yang telah diperbuatnya selama ini, bisa dibalaskan sekarang juga dengan membebaskannya dari kesulitan ini.

Tetapi ternyata Yang kuasa berkehendak lain….. Rini sedang dicoba dengan kesulitan, Rini yang terbangun dari pingsannya mendapati tubuhnya sudah tanpa busana tergolek lemah diatas tempat tidur, segera rasa sakit yang menyengat dirasakannya dari bagian tubuh yang paling pribadi, Rini mengingat kembali kejadian saat dirinya merasakan kesakitan yang luar biasa yang membuat dirinya tidak sadar beberapa saat tadi, dilihatnya si Nepal yang juga tanpa busana duduk santai di sofa sambil menghisap rokoknya, tersenyum dengan symbol kepuasan dan kemenangan, yang bagi Rini seperti sebuah seringai keberingasan.

Rini berusaha duduk, dilihatnya lumuran darah segar membasahi sebahagian tempat tidur, darah keperawanannya sendiri, dia bangkit kekamar mandi dan membersihkan tubuhnya.

Sekembalinya dari kamar mandi, ternyata si Nepal yang dari tadi memperhatikan tubuh telanjangnya bergairah kembali langsung menerkamnya, Rini berusaha berontak, tetapi kembali ancaman si Nepal membuatnya tidak berkutik, dia hanya bisa pasrah dan menangis menahan rasa sakit, sakit di kelaminnya … tetapi yang lebih sakit adalah sakit didalam sanubarinya yang sudah tidak suci lagi….

Setelah tiga kali si Nepal menggagahinya, Rini kembali menagih janji si nepal agar mengembalikan ID nya dan membiarkannya pergi…. tetapi dasar penjahat kelamin, si Nepal ingkar janji, dia malah mengatakan akan mengembalikan nya bila Rini membayarnya sejumlah uang.

Rini hanya punya empat ratus Hong Kong dollar yang dikumpulkannya dengan susah payah, sementara si Nepal memintanya membayar lima ribu, bila tidak dirinya akan menggagahi Rini kembali setiap Minggu, sampai uangnya ada.

Rini yang sudah habis semangatnya hanya bisa menangis dan menangis, kemudian berjalan lunglai meninggalkan si Nepal didalam kamar.

Sesampainya dirumah dia berusaha menyembunyikan tangisannya agar tidak diketahui oleh Employernya, dirinya berusaha menutupi masalahnya serapi mungkin.

Malamnya Rini tidak bisa memejamkan matanya sedetikpun, bayangan kelabu dan rasa sakit yang dialaminya terlalu perih untuk dilewatkan, dirinya marah marah pada nasib dan juga dirinya marah kepada Tuhan yang tak mau menolongnya saat kesusahan, dirinya berontak kepada kodrat, percuma saja dia berbuat baik selama ini, percuma saja semua hal hal yang dipelajarinya dan semua yang diyakininya selama ini, kalau saat membutuhkan ternyata tak bisa menolongnya…. itu yang dirasakannya saat itu.

Yang lebih menyesakkan Rini, minggu depan dirinya harus melewati hal itu lagi … dirinya harus rela digagahi si Nepal lagi, karena dia tak punya uang sebanyak itu, karena sebelum pergi si Nepal mengancamnya kembali, kalau mau selamat Rini harus bertemu dengan si Nepal setiap Minggu.

Rini berdiri dan melangkah kedepan cermin dikamarnya dipandangnya bayangan wajahnya sendiri, sudah tidak sama lagi seperti pagi ini, sudah tidak segar lagi, sudah layu bagaikan mawar yang telah tercemar asap dan debu dipinggir jalan.

Saat itulah terbersit dipikirannya untuk mengahiri hidupnya dengan terjun dari jendela kamarnya yang di lantai 28, tetapi seperti kebiasaan dan aturan Hong Kong, bahwa semua jendela harus ditutp dengan jeruji besi untuk menghindari tindakan bunuh diri, karena Hong Kong adalah negara kedua setelah Jepang dalam jumlah Bunuh diri.

Jendela kamar Rinipun ditutupi dengan jeruji besi.

ahirnya Rini pasrah… dihempaskannya tubuhnya kelantai begitu saja sambil bersandaran ditembok… ditengadahkannya wajahnya untuk menahan linangan airmata yang sedang tumpah… tetapi usahanya sia sia … aliran hangat airmata yang dirasakannya meleleh dipipinya.

Dia membenci nasibnya, membenci Lelaki, membenci dunia bahkan membenci semuanya termasuk sang Pencipta…..

Bersambung………

Read Full Post »

weekend di macau

Weekend saya di Macau agak berkesan, walaupun hujan selalu turun siang harinya.
Sewaktu antri di ruang tunggu Ferry Terminal di Sun Tak centre Hong Kong, saya sempat berkenalan dengan seorang gadis America yang berasal dari California Selatan tepatnya Sandiego.
Namanya Mourine, orangnya cukup ramah dan sangat supel dalam bergaul, sayang sewaktu saya bilang kalau saya punya Blog dan menenyakan apakah saya boleh pajang Photonya di Blog, dia menolaknya dengan keras.
 
Grand Lisboa Hotel and Casino Macau

Grand Lisboa Hotel and Casino MacauW Ferry Terminal dan Jembatan MacaulSands Hotel and Casino Macau

 Sesampainya di Macau langsung menuju Venetian Hotel and Casino, yang baru diresmikan beberapa bulan yang lalu, yang menurut informasinya, kini Venetian menjadi Hotel dan Casino terbesar di Dunia melebihi Hotel hotel di Las Vegas dan Atlantic City.

Ketika Check in di Lobby, saya melihat pemandangan yang agak asing sekali, yaitu banyakl sekali orang orang India yang berkeliaran, ini tidak biasanya di Macau.

Ternyata saat ini di Venetian diadakan Festival film India atau Indian International Film award, yang dihadiri para selebritis Bollywood.

Diantaranya adalah Amitabh Bachan, Abisek Bachan (anaknya), dan juga Aishyawara Rai Bachan (menantunya) dan juga bintang bintang lainnya yang tidak saya kenal.

Macau Tower
Macau Tower

 Saya bukanlah penggemar Film film India, meskipun sewaktu saya ada di mumbai dulu, saya sering bertemu dan bercakap cakap dengan mereka, karena saya tinggal di Taj Mahal hotel, dimana terdapat Clup 1900 yang setiap hari Rabu malam adalah khusus member dan selebrity Bollywood.

Berhubung saya adalah regular Guest dan Long time stay Guest, saya mendapat facilitas VIP member.

Saat itu saya sering bertemu dengan para selebrity bollywood, termasuk Aishyawara rai yang saat itu baru terjun ke dunia Film setelah memenangkan Miss Universe, jadi saat itu dia belum begitu terkenal seperti sekarang.

Yang paling berkesan bagi saya diantara bintang bintang itu adalah Govinda, karena beliau ini betul betul Joker yang hebat, orangnya kocak sekali.

Kemudian Sunjay Dutt, tampangnya yang serem sekali, tetapi orangnya baik hati dan ramah sekali.

Sharuk Khan bergaulnya biasa saja, tetapi setiap kali saya melihatnya di Club 1900… selalu mabuk, memang beliau ini peminum kelas berat.

Madhuri Dixit, bila beliau ini menari traditional dan Classic… semua orang meminggir dari lantai dansa dan menikmati tariannya yang sangat exotis sekali.

Sebenarnya saya ingin bertemu dengan Aishya wara di Venetian, ingin menanyakan apakah beliau masih mengingat saya…. tetapi kawalan body Guard dan ribuan penggemar yang menyesaki Venetian mengurungkan niat saya, terlebih lagi Mourin tidak suka hal hal yang berbau India, sementara dirinya selalu mengikuti saya kemanapun saya pergi, ahirnya saya batalkan niat saya untuk menonton acara tersebut.

Dreams City CROWN dan Hard Rock Hotel and Casino Macau
Dreams City CROWN dan Hard Rock Hotel and Casino Macau

 Mourin sangat suka dengan tarian ala South America dan Disco di Venetian, bersama teman teman yang lain persis kami menghabiskan waktu di dalam Disco dan Bar Bar ditengah tengah Casino didalam Venetian.

Sehingga Kamar hotel yang seharga HKD 2800,-  atau sekitar IDR 3.500.000,- semalam hanya digunakan untuk mandi dan ganti baju saja.

Kota didalam Bangunan Venetian
Kota didalam Bangunan Venetian

 Bangunan Venetian sendiri sungguh luar biasa, didalam gedung mereka membangun sebuah Kota mini yang dilengkapi dengan ratusan toko toko, hebatnya lagi dibagian atas dilukis dan diberi cahaya seolah olah lngit biru…. padahal itu adalah lantai bawah bangunan kamar hotel diatasnya.

Pintu masuk Utama Venetian
Pintu masuk Utama Venetian

Bagi saya Weekend ini sangat berkesan, bisa untuk sementara melepaskan diri dari semua beban pekerjaan yang membuat saya sangat bosan dan pusing.

Bila ada kesempatan lagi mungkin saya akan kembali lagi ke Macau, tentunya akan berkunjung ke Hotel Lainnya yang banyak sekali di Macau.
Wall Board tempat para Selebritis Bollywood berfoto sebelum memasuki acara Indian Film Award didalam Venetian
Wall Board tempat para Selebritis Bollywood berfoto sebelum memasuki acara Indian Film Award didalam Venetian

Ada satu hal yang agak mengganggu saya di Venetian.

Banyak sekali gadis gadis Muda dari China yang berusaha menjajakan dirinya didalam Casino, mereka rata rata berpakaian sexy sekali atau minim yang menunjukkan sebagian bagian bagian tubuh yang menggiurkan yang bisa mengundang birahi para lelaki yang melihatnya.
Mereka nggak segan segan mendatangi atau bertanya langsung kepada setiap lelaki yang sedang sendirian, terutama orang orang eropah atau kulit putih.
Hal ini sempat membuat mourin agak marah pada mereka dan semakin menempel saya, sayapun nggak mengerti apakah dirinya cemburu..?!
Padahal diantara kami juga tidak ada apa apa… hanya teman seperjalanan daripada sendiri sendiri menjadi bengong.
Shuttle Bus yang siap membawa pengunjung dari dan Ke Venetian - Ferry Terminal.
Shuttle Bus yang siap membawa pengunjung dari dan Ke Venetian – Ferry Terminal.

Suatu saat saya lihat para security Venetian beramai ramai menghalau mereka keluar dari dalam Casino, mungkin mereka sudah kenal siapa siapa mereka.

Cara mereka menggiring dan menghalau keluar, mengingatkan saya pada petani desa di Purworejo ketika mengangon Bebek di jalanan pematang sawah.
Caranya menghalau dan menggiring dari kiri kekanan, sementara yang di Halau berusaha mencari jalan menyimpang tetapi nggak bisa …. saya rasa kurang manusiawi.
Gerbang depan Venetian Hotel and Casino Macau...

Gerbang depan Venetian Hotel and Casino Macau...

Saya berpikir, betapa susahnya mereka mencari uang yang mungkin untuk menopang keluarga atau siapa saja di rumah… meskipun harus dengan cara yang tidak baik, harga diri dan Tubuhnya terjual mungkin demi kehidupan keluarga dan dirinya sendiri.

Mungkin banyak sekali yang berkata, mengapa mesti melacurkan diri..?! tetapi menurut saya kadang hidup ini adalah pilihan… tetapi ada saatnya seseorang juga tidak punya pilihan lain… mungkin karena keadaan dan situation yang demikian …. entahlah… saya rasa akan lebih bijak sana bila memberi solusi daripada mencerca apalagi menyalahkan bukan…?! 

Bangunan Venetian dari kejauhan...

Bangunan Venetian dari kejauhan...

 Saya juga mendapat informasi bahwa di Macau sekarang ada ribuan tenaga kerja Indonesia (TKW).

Yang kurang mengenakkan adalah kebanyakan diantara mereka bekerja di Sauna sauna atau Panti Pijat yang bertebaran di Macau.

Mereka bekerja sebagai Pemijat Plus Plus yang sudah menjadi standard di Macau… mungkin tidak semuanya, tetapi hampir dipastikan layanan Plus Plus ini sudah merupakan kewajiban untuk para petualang petualang birahi yang mengunjungi Macau, karena di Macau Prostitusi adalah professi legal.

Semoga Pemerintah kita bisa melakukan sesuatu untuk mengatasi perdagangan manusia ini (Human Trafficking) agar tidak ada lagi export wanita wanita muda dari Indonesia untuk prostitusi.

Bagi kita semua juga mungkin akan sangat bijaksana bila bisa berbuat sesuatu menolong mereka …. dari pada hanya menyalahkan apalagi menghina mereka….

Semoga……

 

Read Full Post »

Sejak saya mulai membantu Corrina memperbaiki rumah barunya, hubungan kami semakin dekat dan mesra, ternyata Corrina bukanlah orang yang sulit untuk bergaul, beliau sangat supel dan ramah penuh pengertian.

Melihat perkembangan ini Stigg menjadi sangat senang, senyuman ceria selalu mengambang dibibirnya setiap kali bertemu dengan saya di pagi hari , dilokasi pekerjaan.

Meskipun untuk hal ini saya harus menghadapi dan menjawab banyak pertanyaan pertanyaan darinya, yang kadang menurut saya sudah sangat keterlaluan.

Tetapi bagaimanapun Stigg adalah seorang sahabat yang selalu saya hormati karena telah banyak membimbing saya, apalagi saat ini saya sudah resmi berpacaran dengan Putri bungsunya.

Hari hari di Gothenborg menjadi lebih indah bagi ku barangkali juga dengan Corrina.

Setiap pulang kerja saya langsung kerumah barunya, melakukan apa saja yang bisa dibenahi, mulai dari interior, mengecat, sampai memotong rumput dan menata beberapa deret Pot Bunga yang menghiasi halaman depan dan belakang.

Semuanya kami lakukan bersama sama, saya menikmatinya, karena saya juga berharap bahwa saya akan tinggal dirumah ini juga.

Pada ahir pekan sabtu dan Minggu, ketika saya tidak masuk kerja, kami menginap dirumah yang belum selesai itu, Corrina sengaja membawa sebuah Spring Bed dan beberapa perlengkapan memasak lainnya sekedar untuk Emergency bila sewaktu waktu kami ingin tinggal dan bermalam disana.

Segalanya terasa indah, Corrina kelihatannya benar benar menyukai saya, ini saya rasakan dari hal hal kecil yang dilakukannya, perhatiannya yang tulus pada saya, saya bisa merasakannya.

Suatu hari Corrina mengajak saya ke sebuah Photo Studio, untuk membuat beberapa pose bersama yang tentunya dengan nuansa romance dan kemesraan, saya nggak protest, hanya menurut saja, karena saya pikir nggak ada salahnya juga, toh sayapun menyukainya.

 Photo itu kemudian dicetak dengan ukuran besar, dan dipajang diruang tengah sehingga bila siapapun yang memasuki rumah akan melihat Photo itu, mungkin sebagai Signal kalau yang empunya rumah sudah punya pasangan..?!

Hubungan saya dengan Corrina semakin akrab, ketika saya sedang bertugas di Kolombia dan China, diapun datang mengunjungi saya.

Stigg sangat mendukung dan sangat mengharapkan kami segera menikah, setelah itu dia akan mengajak saya untuk menangani perusahaannya bersama sama.

Tetapi saya bilang kalau sayapun punya carier yang nggak terlalu jelek sekarang ini, saya nggak butuh pekerjaan lain.

Kami mulai membicarakan soal pernikahan, yang bagi saya saat itu oke oke saja, nggak ada hal yang menghalangi saya untuk menikahi Corrina.

Tetapi saya mulai agak kurang sreg ketika kami mulai serius membahas soal pernikahan.

Ada beberapa hal yang menurut saya sangat prinsip didalam hidup ini yang kurang cocok dengan Corrina.

Pertama ketika saya sampaikan pada Corrina bahwa saya mau menikah untuk seumur hidup, tidak ada kamus bercerai, no matter what, no matter how…. tak ada alasan, sekali menikah untuk selamanya sampai ajal menjemput.

Karena ini adalah semacam “Sumpah” pada diri saya sendiri, setelah mengalami perpisahan kedua orang tua saya, meskipun mereka bersatu kembali menjelang akhir hidupnya.

Ternyata Corrina tidak bisa menjawabnya dengan pasti, ada keraguan didirinya.

Kedua ketika Corrina mengatakan bahwa dirinya ingin membuat contract pernikahan yang memuat klausul tentang Harta masing masing akan tetap pada pemilik masing masing bila terjadi perceraian, hal ini yang saya tolak mentah mentah, bukan karena saya ingin menguasai harta Corrina, tetapi saya pikir adalah sesuatu permulaan yang sangat buruk, kalau dari awal pernikahanpun sudah tidak ada Trust… sudah tidak saling percaya dan penuh kecurigaan.

Menurut saya bila dua orang memutuskan untuk menikah, seharusnya mereka harus berbagi bersama tentang hal apapun, jangankan harta…. penderitaan dan kesenanganpun harus dishare bersama.

Setelah melalui perdebatan yang panjang, saya mengajak Corrina untuk dengan sejujurnya menginventarisasi Harta dan milik masing masing.

Dari mulai rumah, mobil, rekening Bank dan semua investasi yang dimiliki, ternyata apa yang saya miliki masih jauh melebihi yang Corrina miliki, ahirnya dengan penjelasan saya, Corrina pun setuju kalau nanti menikah, semuanya menjadi milik bersama.

Ketiga dan ini yang menjadi penyebab perpisahan kami, Corrina mengatakan bahwa dia masih mengutamakan Carrier, untuk itu dia tidak mau mempunyai anak, dia ingin memusatkan perhatiannya di Carier, nggak mau disusahkan dengan kehadiran anak.

Ketika saya tanyakan apakah ini temporary sifatnya, yang hanya menunda saja untuk beberapa tahun kedepan…?!

Jawaban Corrina sangat pasti…. Untuk selamanya…!!!!!

Saya benar benar Patah arang….., kalau misalnya Istri tidak bisa punya anak karena sesuatu hal yang berhubungan dengan kesehatan atau lainnya, saya bisa menerimanya, atau akan memilih dengan mengadopsi seseorang.

Tetapi hal ini lain…., tidak mau sama sekali punya anak…!!!

 

Ketika hal ini saya sampaikan pada Stigg, dia berusaha berbicara dan membujuk Corrina untuk merubah pendiriannya, atau setidaknya untuk Consider dengan hal itu, tetapi Stigg pun gagal, diapun tak berhasil membujuknya.

 

Ahirnya dengan baik baik saya katakan pada Corrina dan Stigg juga, kalau saya bukanlah orang yang tepat untuk menjadi suaminya, Stigg pun bisa memahaminya.

Kamipun berpisah dengan baik baik……

 

Tetapi yang tidak saya mengerti adalah ketika Corrina menikah tahun 2005 yang lalu dengan suaminya yang orang swedia juga, tahun 2007 Corrina melahirkan seorang bayi laki laki, ini saya ketahui dari Jerry ketika saya bertemu dengannya di Pattaya Thailand.

 

Dunia memang aneh, kehidupan memang aneh, kodrat memang aneh, nasib juga aneh….

Atau mungkin saya sendiri yang aneh….?????

Read Full Post »

Global crisis yang menerpa perekonomian dunia menerpa siapa saja, termasuk perusahaan dimana saya dan teman teman bekerja.

Omset perusahaan sampai turun sekitar 40 %, menghadapi ini terpaksa harus dilakukan adjustment atau usaha penyelamatan.

Ada beberapa option yang ditawarkan pihak Management, melakukan pengurangan karyawan, penghematan besar besaran, serta option bergiliran untuk cuti.

Setelah ber diskusi dengan teman teman saya yang lain, ahirnya kami memutuskan untuk mengusulkan menjadi relawan pertama yang mengambil cuti dan standby condition.

Cuti dibayar sesuai dengan basic salary, sementara Standby dibayar hanya 60 % dari basic salary, itupun dengan condisi tidak boleh bekerja ditempat lain dan harus siap bila sewaktu waktu dipanggil kembali untuk ditugaskan.

Saya, Tom, Helmut, Kyle dan Flo ikut mengambil opsi ini.

Helmut dan Tom punya usul agar kami berlibur di sebuah Ranch yang dia miliki di Costarica.

Kebetulan saat itu Perusahaan mempunyai opsi sebuah Project di El Salvador, sehingga sewaktu waktu mungkin kami akan ditugaskan ke sana, Costarica tidaklah begitu jauh dari El Salvador.

Tom dan Helmut mempunyai Ide baru, yaitu agar kami berlibur di Costarica dengan tinggal di Hutan secara alami, tanpa sentuhan alat alat modern Technology seperti Handphone, internet dan segala macam alat modern lainnya.

Acaranya mirip mirip seperti Survivor yang cukup terkenal di America, tetapi tentunya kami lakukan sendiri tanpa sponsor dan segalanya apa adanya, tujuannya adalah untuk dapat merasakan bagaimana hidup dialam bebas, dan bisa bertahan dengan usaha yang alami, memakan apa saja yang bisa didapatkan dari Hutan, mungkin juga bisa menurunkan berat badan kami masing masing yang kegemukan.

Saya setuju saja, karena sebagai teman dan sahabat yang cukup akrab, saya juga ingin berbagi waktu dan bersenang senang dengan mereka.

Hanya satu hal yang menjadi ganjalan bagi saya, karena masing masing mereka membawa pacar dan pasangan masing masing, sementara saya yang Panglatu mau membawa siapa…?!.

Sebenarnya Jennifer mengusulkan untuk membawa serta adik perempuannya, agar dikenalkan pada saya dan sekaligus bisa menjadi “Partner” saya selama di Costarica, syukur syukur kalau cocok bisa seterusnya.

Tetapi saya dengan halus menolaknya, karena saya pikir bagaimana saya bisa tinggal bersama seseorang yang belum saya kenal selama enam Minggu di Costarica, kalau orangnya enakan atau bisa diajak kompromi mungkin lain hal, tetapi bila orangnya menyebalkan..?! tentunya akan merusak seluruh acara selama berminggu minggu.

 

Setelah dari Antwerp di Belgia, saya langsung menuju Costarica, bertemu dengan teman teman.

Ternyata Ranch yang Tom miliki ini cukup jauh dari kota terdekat butuh waktu 16 jam dengan Jeep 4×4 melalui jalan jalan yang terjal dikaki bukit, jalan jalan tanah yang penuh dengan kubangan air.

Sebenarnya Tom mempunyai sahabat yang punya pesawat ringat Ultra Light, dengan kapasitas penumpang empat orang dan beban barang tertentu akan memakan waktu sekitar satu setengah jam saja, tetapi karena rombongan kami berjumlah sembilan orang dan beban barang yang banyak, kami memutuskan untuk jalan darat saja.

 

Semenjak diperjalanan, saya sudah merasakan sesuatu yang kurang nyaman, kerena para wanita pasangan teman teman saya sudah mulai mengeluh dengan jalanan yang rusak parah, suspensi Jeep 4X4 yang keras dan tentunya tanpa AC.

Mereka yang biasanya hidup dengan kemewahan di America, dengan segala facilitas yang complete termasuk untuk pemeliharaan Kuku yang rutine setiap minggu, kini harus berkeringat dibawah terik matahari yang menyengat dicuaca Tropical Costarica.

Saya sudah menduga kalau liburan ini akan timbul masalah, tetapi saya selalu optimist bahwa mereka akan menyadari bahwa sejak pertamapun kita semua sudah wanti wanti dan sudah mengetahui kesulitan apa yang akan kita hadapi.

Justru tantangan itulah yang kita harapkan menjadi kenangan yang indah untuk dikenang, menjadi pengalaman berharga bagi kita semua, agar kita bisa lebih mengapresiasi apa yang kita miliki dan kita nikmati dikehidupan Modern dan Metropolitan.

 

Untuk membuat suasana lebih alami, Tom sengaja mematikan Diesel motor yang biasanya digunakan untuk penerangan listrik dimalam hari, malah kami semuapun tidur ditenda tenda dan Sleeping Bag masing masing diluar rumah.

Bagi saya ini sangat menyenangkan, saya jadi teringat kembali kampung halamanku nun jauh disana di Indonesia, tepatnya di Simangumban didaerah Pahae Sumatera Utara, ketika saya mendengar suara binatang eor eor, saya teringat ketika saya memasuki perkebunan karet di Simangumban sana, disana juga ada binatang yang sama, dengan suara yang sama… eor… eor… di Simangumban binatang ini disebut Ernga.

 

Hari pertama sampai ketiga, belum ada masalah, kami masih asyik bercanda, bermain disungai, memanjat pohon pohonan yang bisa dimakan buahnya, ada Jambu air, ada semacam Cempedak yang mirip dengan Nangka tetapi lebih kecil.

Saya memetik beberapa buah cempedak yang sangat muda, kalau nggak salah dijawa disebut Babal, kemudian saya makan bersama pucuk daun pappaya dan sedikit garam.

Teman teman semua mencobanya, meskipun mereka tidak menyukainya, tetapi saya jelaskan bahwa bila kita tersesat ditengah hutan, makanan adalah factor utama untuk Survive, tanpa makanan dan minuman kita hanya bisa bertahan kurang dari satu minggu.

 

Banyak hal hal yang mengganggu saya berkumpul dengan teman temanku ini, salah satunya adalah cara berpakaian para wanitanya yang saya rasa terlalu cuek dan membuat saya kurang nyaman.

Betul, saya adalah sahabat karib para pasangan mereka, tetapi bagi saya melihat mereka berempat Topless dan kadang ALL less …. bisa membuat saya deg deg an dan benar benar tidak nyaman, betul saya pun sudah sering melihat pasangan saya yang dahulu telanjang, tetapi itu lain, bila melihat pasangan kita tentunya ada hal yang berbeda.

Udara panas Costarica juga membuat mereka persis setiap hari tanpa pakaian, memang Cuma kita yang ada didaerah itu, tidak ada orang lain.

 

Yang membuat saya merasa Bodoh dan Naif…., setelah saya mengetahui bahwa mereka adalah pasangan Swinger….. , ya ampun…!!!

Begitu polos dan naifnya saya sehingga saya pun tidak menyadari selama ini kalau mereka adalah pelaku kehidupan sosial Swinger itu.

Memang selama ini bila ada acara acara barbeque party atau sekedar nongkrong dan minum bir bersama, saya selalu pulang terlebih dahulu.

Bukan apa apa, saya minum Bir Cuma untuk sosial saja, dan saya tidak merokok, saya sangat anti rokok.

Kalaupun saya minum Bir, hanya untuk mengikuti dan menghargai teman saja, agar tidak terlihat Kurang pergaulan.

Jadi selama ini saya tidak pernah tau apa yang terjadi setelah party atau setelah saya pulang.

Saya nggak keberatan atau pun mencela cara hidup mereka, hanya saya merasa bodoh saja koq bisa nggak tau, pada hal mereka adalah teman teman akrab saya.

Di Costarica ini mereka melakukannya dimalam hari di tempat yang sangat gelap tanpa penerangan, benar saya nggak bisa melihat apa yang sedang mereka lakukan, tetapi setidaknya saya bisa mendengar apa yang terjadi.

Kadang saya mendengar mereka membicarakan tentang saya juga, mereka merasa prihatin karena saya hanya sebagai penonton saja, karena saya nggak punya orang yang untuk di “Swing”.

Saya nggak mau membicarakan apa yang mereka lakukan keesokan harinya, saya terlalu malu untuk membicarakannya, malah saya katakan pada Tom, agar saya tidur agak berjauhan saja lain kali, agar saya nggak bisa mendengar apa yang terjadi.

Tetapi justru Tom mengatakan, bahwa dia dan teman teman yang lain sudah berdiscusi dan sepakat bahwa kalau saya mau, sayapun bisa ikut ambil bagian di “Party” mereka, toh kita semua adalah sahabat, kita bisa berbagi apa saja, kami tidak keberatan, begitu katanya.

Gila…!!! apakah ini yang disebut kehidupan modern, Free style, dan entah apapun itu namanya menurut mereka..?!

Saya bukanlah orang yang munafik yang mengatakan tidak tertarik pada kemulusan dan kemolekan tubuh seorang wanita, justru saya adalah lelaki normal yang sangat tertarik pada lawan jenis, terus terang sering kali saya mencuri curi melirik bila melihat seorang gadis manis ada disekitar saya, saya sangat tertarik pada keanggunan seorang wanita, tetapi pacar atau istri sahabatku sendiri…?! No Way…!!!

Terus terang setelah beberapa hari melihat tubuh tubuh telanjang mereka, saya sudah tidak merasakan apa apa lagi.., tidak ada aliran setrum panas yang mendesir dihati kurasakan, tidak ada deg deg an yang memacu jantungku, sama seperti ketika saya sedang berpelukan mesra dengan kekasihku, tak ada perasaan melayang layang seperti yang kurasakan saat kekasihku berbisik mesra ditelingaku.

Dengan halus saya katakan pada Tom dan Helmut, saya sangat menghargai kesetiaan persahabatan mereka, tetapi saya nggak bisa mengikuti apa yang mereka lakukan, tidak juga bila seandainyapun suatu waktu nanti saya punya pasangan, karena saya mempunyai prinsip prinsip yang harus saya jalani dan terapkan dalam hidup ini.

 

Kelihatannya mereka bercerita tentang penolakan saya pada pasangan mereka, yang membuat mereka mungkin menjadi penasaran, sehingga mereka pun berusaha “mengganggu” saya.

Mulai dari mendatangi saya saat mandi disungai, memeluk saya ketika tidur dan banyak lagi hal hal yang nggak bisa saya sampaikan disini.

Ahirnya mereka menyerah setelah suatu kali saya benar benar marah, saya katakan Enough is Enough…. saya nggak tertarik…!!!

 

Pada Minggu kedua permasalahan diantara mereka sudah muncul, banyak pertengkaran yang terjadi.

Mulai dari soal jatah makanan, bahwa pasangannya tidak memberikan porsi yang secukupnya, atau ketika berjalqan dihutan tidak ditungguin, berjalan terlalu cepat dan lain sebagainya, saya hanya menjadi penonton dan penengah saja.

Pada minggu yang ketiga mereka sudah muai saling cemburu, istri Tom mengatakan bahwa Tom kurang mencintainya karena Tom lebih menikmati saat “Bercinta” dengan pacar Flo, Tom lebih bersemangat bila melakukannya dengan pacar Flo.

Ahirnya Istri Tom nggak mau lagi “Berhubungan” dengannya, dia hanya melakukannya dengan yang lain.

Flo pun ahirnya nggak mau terima kalau dikatakan bahwa Pacarnya lebih tertarik pada Tom, ketika dia bertanya pada pacarnya, pacarnya marah besar karena Flo meragukan kesetiaannya.

Dalam hati saya bertanya pada diri sendiri…. kesetiaan apa lagi yang ditanyakan kalau masing masing pasangan telah berselingkuh didepan mata..?! dunia memang aneh…!!!

 

Kami juga menghadapi masalah dengan Authority setempat, karena sejak minggu kedua, karena kami kesulitan untuk menangkap dan berburu ayam ayam hutan atau Kancil di hutan, ahirnya Tom menyewa senapan berburu dari seseorang lokal disini.

Kami tidak menyadari kalau itu bisa menjadi petaka, karena disini ternyata masyarakat sipil tidak boleh memiliki senjata api, tidak seperti di America yang membebaskan semua penduduknya memiliki senjata api.

Kami digiring kekantor polisi setempat dan akan dimasukkan ke Penjara.

Untunglah keadaan di Costarica inipun tidak terlalu berbeda dengan di Indonesia, semuanya berdasarkan UUD…. ujung ujungnya Duit..!

Dengan membayar USD 5000,- kami semua dibebaskan, malah diberi ijin khusus untuk bisa menggunakan senapan berburu.

 

Tetapi permasalahannya tidak selesai disitu, persoalan internal antara mereka dan pasangannya semakin panas, ahirnya yang pertama Broken adalah Tom dan istrinya, istrinya pulang dan meninggalkan Tom bersama kami di Costarica.

Saya sebenarnya sudah mengusulkan pada Tom agar menghentikan saja liburan ini, atau mencari tempat lain dan yang lebih menyenangkan.

Tetapi dasar Tom dan Helmut yang keras kepala dan terlalu malu untuk mengalah, karena ide ke Costarica adalah dari Tom dan Helmut, sehingga mereka akan mempertahankan idenya sampai selesai.

 

Hari hari berikutnya satu persatu pasangan pasangan mereka pulang dan meninggalkan kami, saya benar benar nggak tau harus berbuat apa apa, mereka masing masing memutuskan untuk berpisah.

 

Hal ini sangat menyedihkan dan sangat mempengaruhi saya, terutama pandangan saya terhadap kehidupan rumahtangga atau berpasangan.

Saya menjadi Gamang… apakah cita cita saya yang akan menikah untuk selamanya dan sekali seumur hidup akan bisa terlaksana..?!

Saya membandingkan dengan yang dialami oleh teman teman saya… mereka yang sudah bertahun tahun hidup bersama, bahkan Tom sudah mempunyai anak, bisa semudah itu berpisah hanya karena mungkin kurang mampu menghadapi kesulitan yang kita hadapi di Costarica, sebenarnya kesulitan yang sifatnya sementara… yang akan berahir kapan saja kita mau, yang bisa kita ahiri setiap saat kalau kita mau.

Bagai mana nanti bila mereka menghadapi kesulitan yang sesungguhnya…?!

 

Saya nggak tau bagaimana nanti ahirnya… tetapi yang saya tau mereka semua sekarang hidup terpisah, sudah tidak tinggal bersama lagi….

 

Ketika saya kembali ke “Alam nyata” kehidupan rutine saya, sesampainya saya di Hong Kong, saya segera menghubungi seseorang yang selama ini saya harapkan akan menjadi pasangan hidupku kelak, seseorang yang padanya saya justru nggak berani berjanji apapun, karena saya nggak mau mengecewakannya.

Seseorang yang selama ini saya ingin bahagiakan, yang selalu kuharapkan berbahagia meskipun itu bukan bersama saya.

Kusampaikan keraguanku, kusampaikan semua uneg uneg yang aku rasakan, dan kukatakan bahwa saya Gamang… saya ragu… saya bingung…. dan saya nggak tau apa yang harus kulakukan, saya nggak bisa memutuskan apa yang akan kurencanakan bagi masa depanku…

Kusampaikan perasaan penyesalanku dan permohonan maafku yang telah dengan lancang pernah mengusik kehidupannya, kusampaikan bahwa saya nggak akan pernah melupakannya, kusampaikan bahwa saya tidak sedang tertarik dengan Wanita manapun…. kecuali Dia… hanya saja saya sedang bingung, tidak bisa memutuskan apa yang seharusnya saya lakukan untuk menemui dan MENIKAHINYA…..

 

Ternyata sang Pujaan hatipun sudah memilih pasangannya yang lain, Dia telah memilih seorang Pangeran yang lebih Gagah dan Satria dan Berani menyelamatkannya….

Mungkin waktu enam minggu Dirinya kutinggalkan, cukup untuk memutuskan pilihannya….. 

Dari lubuk hatiku yang paling dalam kuucapkan Selamat Berbahagia Untuknya….

Kudoakan semoga Pangeran pilihannya adalah orang yang paling tepat baginya, yang bisa membahagiakannya untuk selamanya….

 

Bila kita Mencintai seseorang, tentunya kita harus mengharapkan yang terbaik baginya bukan..?! demikian halnya dengan saya, saya mengharapkan yang terbaik baginya, saya merasa bahagia bila Kamu Bahagia….

Jangan pikirkan tentang saya… saya masih tetap Panglatu yang setia sebagai Panglatu….

 

Saya berusaha menjalani Hidup ini apa adanya…. berusaha menikmati setiap helaan nafas yang Allah berikan padaku, mensyukuri semua nikmat dan Rahmat yang hingga saat ini berlimpah padaku.

Saya yakin ada rencana yang indah dan lebih baik yang telah tertulis di kodrat yang akan saya jalani….. mungkin ada Peri penolong atau Wanita yang nyasar dan Khilaf yang mau menjadi Istriku kelak……

Kalaupun tidak…. kehidupan akan berjalan terus…. dunia akan berputar terus… seiring perubahan Zaman..

 

Selamat Berbahagia.

Read Full Post »

Namanya Widiyanti, wajahnya ayu, imut dan kelihatan sangat polos sekali, tanpa polesan make up atau apapun sudah terpancar aura kecantikan dari wajahnya.

Itu yang saya tangkap kesan ketika pertama kali saya bertemu dengannya, sekitar empat tahun yang lalu di sebuah bangku besi yang banyak terdapat disekitar Victoria Park Hong Kong.

Usianya baru menginjak 17 Tahun, masih kelihatan wajah kekanak kanakannya, Dia hanya lulusan SMP di Wangon, setelah itu berhenti karena kesulitan biaya.

Kebiasaan saya waktu itu bila nggak ada kegiatan yang lain, saya memilih nongkrong di Victoria Park yang terdapat di daerah Causewaybay Hong Kong.

Sekedar ngobrol dan berkenalan dengan orang orang Indonesia yang ada disana atau hanya sekedar mendengarkan obrolan dan cerita mereka.

Banyak hal hal yang lucu yang saya dengar dan alami dari mereka, tentang banyak hal, dari semua segi kehidupan mereka pengalaman pengalaman yang mereka lewati dengan segala suka dukanya.

Ada hal yang sering saya alami…. sering kali saya duduk diam diantara mereka, mendengarkan semua obrolan mereka, ketika saya menyelethuk atau bertanya pada mereka dalam bahasa Indonesia…. kelihatan keterkejutan diwajah mereka, yang tidak menduga kalau saya mengerti dan fasih berbahasa Indonesia.

Terlebih lagi bila saya menyapa mereka dalam bahasa Jawa, yang tentunya sedikit kaku dan agak lucu barangkali.

 

Siang itu hari Sabtu, seperti biasa Victoria Park tidak begitu ramai, karena biasanya para TKW asal Indonesia kebanyakannya berlibur dihari Minggu.

Saya sedang duduk sendiri disebuah Bangku besi yang terdapat disekitar airmancur di Victoria Park sambil membaca sebuah buku berbahasa Inggris.

Seorang gadis remaja berjalan dengan santainya menuju kearah dimana saya sedang duduk, saya terhenyak….! wajahnya yang sangat mirip dan mengingatkan saya pada seseorang yang sangat saya kenal hanya saja dia jauh lebih muda, ya…. saya teringat akan Anggi yang berasal dari Purworejo.

Tanpa basa basi, dia duduk diujung lain bangku yang sedang saya duduki meski kelihatan wajahnya ragu dan sedikit bingung.

Kulirik padanya sambil menutup buku yang sedang saya baca, ketika mata kami beradu, terlihat dia bingung dan dengan kaku berusaha tersenyum pada saya.

Lalu saya menyapanya dengan standard question… “Mbak dari Indonesia..?!”

Saya lihat dia bingung setengah mati… beberapa saat kemudian dia baru menjawab dengan pertanyaan pula… “Lho… koq bisa ngomong Indonesia ya…?!”

“Saya orang Indonesia Mbak… ya pasti bisa ngomong Indonesia… “ jawab saya menjelaskan.

Kelihatan dia nggak bisa menerima penjelasan saya, tetapi wajahnya kini berubah berseri seri, mungkin karena merasa menemukan seseorang yang bisa diajak berbicara bahasa Indonesia.

“Mbak asalnya darimana..?!” tanya saya.

“Saya dari jawa tengah Mister…” jawabnya.

“Ah.. panggil saja saya Michael … jangan pakai mister… , nama kamu siapa…?!” saya memotongnya.

“Nama saya Widiyanti… asal saya dari Purwokerto…” jawabnya.

“Purwokertonya dimana…?!, saya pernah kesana…. saya ada kenalan di Purworejo..” tanya saya.

“Desa saya ada di dekat bendungan kali serayu… di Kebasen” jawabnya.

“Oh… itu kalo nggak salah diseberangnya restaurant yang ada hotelnya Kalibacin khan..?!” tanya saya.

“Iya… koq tau mister…?!” jawabnya.

Saya memandanginya… “jangan pakai mister ya…?!”.

Dia tersenyum malu malu dan tertawa tertahan.

Begitulah awal pertemuan saya dengan Widiyanti, cukup lama saya mengobrol dengannya, saya mengajaknya makan siang bersama disebuah restaurant Indonesia Padang Restaurant dilantai dua dibawah sebuah theater di Causewaybay.

Dia bercerita pada saya bahwa dia baru tiba dari Indonesia, belum sebulan lamanya dan ini kali pertama dirinya jauh dari keluarganya di Kebasen sana.

Dengan potongan gaji selama tujuh bulan sebesar HKD 2000,- dia hanya menerima sisanya sekitar HKD 300,- saja setiap bulannya, harus cukup untuk ongkos dan keperluan lainnya.

Ahirnya saya katakan saya bisa membantunya sekedarnya, dengan cara saya sendiri, dia saya belikan sebuah kartu “Octopus Card” yaitu kartu pra bayar untuk menaiki MTR atau kereta bawah tanah di Hong Kong, tetapi kartu ini juga Multitask, bisa digunakan untuk membayar bila naik Bis, juga untuk keperluan lainnya di supermarket supermarket bisa dibayar dengan kartu ini.

Saya memang sengaja tidak memberikannya uang Cash, karena mungkin akan mencurigakan pada “Employer nya” bila dia memegang uang cash yang cukup lumayan.

Saya banyak memberi arahan dan nasehat padanya, karena entah mengapa saya merasa sangat dekat dengannya, saya menganggap dia seperti adik saya sendiri, dan kelihatannya diapun bisa menerima saya sebagai kakaknya.

Saya wanti wanti dia agar jangan sampai salah bergaul, terutama jangan sampai berpacaran dengan orang orang Pakistan yang banyak berkeliaran dan selalu merayu para wanita wanita asal Indonesia yang ada di Hong Kong.

Karena biasanya mereka akan menggerogoti uang dan segala harta benda mereka, setelah itu akan ditinggal begitu saja.

Bukan cerita aneh lagi bila seorang wanita Indonesia harus pulang kampung karena hamil dengan lelaki Pakistan, atau harus berahir di praktek praktek dokter gelap untuk melakukan Aborsi.

Saya nggak mau itu terjadi pada Yanti.

Oh ya.., saya lebih suka memanggilnya Yanthi dari pada Widi seperti biasanya teman dan keluarganya memanggilnya.

Seminggu sekali Yanthi libur, dan setiap kali pula saya menyempatkan diri untuk bertemu dengannya, mendengarkan semua keluh kesahnya, kemudian mengajaknya makan bersama.

Saya mengenalkan Yanthi pada Mbak Nur yang asal Sumpiuh, tidak jauh dari Kebasen.

Saya meminta Mbak Nur agar mengajak Yanthi untuk ikut bersama ke Pengajian yang dipimpin oleh Pak Muhaemin yang dari Islamic centre Hong Kong.

Kami benar benar akrab, dan saya sangat senang karena menurut saya Yanthi orangnya penurut dan nggak macem macem seperti yang lainnya.

 

Minggu kemarin, saya bertemu kembali dengan Yanthi… juga tidak sengaja, karena nomor teleponnya sudah diganti, sehingga saya kehilangan jejak.

Pertemuan yang nggak disengaja itu mengagetkan Yanthi, juga saya.

Kini Yanthi sudah semakin dewasa, sudah 21 tahun sekarang usianya, semakin cantik dan semakin tinggi tubuhnya.

Tetapi saya merasakan sesuatu yang lain, ada sesuatu yang nggak beres … entah apa…

Yanthi memotong rambutnya yang panjang, kemudian mengecatnya dengan warna sedikit Blonde, make up yang sedikit menor untuk ukuran saya.

Saya mengajaknya makan malam, karena kami bertemu sudah sekitar jam enam sore.

Setelah selesai makan, saya bercerita tentang banyak hal tentang kehidupan kami masing masing, sambil duduk dibangku besi dibawah keremangan taman Victoria Park.

Setelah beberapa lama bercerita Yanthi menceritakan sesuatu yang cukup membuat saya terhenyak.

Tanpa basa basi Yanthi bilang “ Mas… saya sudah nggak Perawan lagi…. “

Saya kaget setengah mati, karena hal ini bukanlah sesuatu yang saya Expected dari seorang gadis lugu seperti Yanthi.

“Kamu pacaran dengan orang Pakistan …?!” selidik saya.

“Nggak Mas…” jawabnya sambil menunduk.

“Lalu dengan lelaki mana kamu melakukannya..?!” desak saya.

“Bukan lelaki Mas… saya sekarang berpacaran dengan seorang cewek Tomboy…” katanya sambil melirik saya pasrah.

“Lho… koq pacaran dengan cewek, kamu bisa nggak Perawan lagi…?!, bagaimana ceritanya itu..?!” tanya saya dengan kebingungan, karena saya nggak habis pikir apa yang mereka lakukan.

“Yah.. anu Mas… dia pake alat itu yang dibeli di Wan Chai… sakit sekali Mas…” katanya sambil menatap saya.

Saya lihat dibawah keremangan lampu taman Victoria, mata Yanthi mulai berlinang air mata, dia menunduk ketika saya menatapnya tajam, berusaha menyembunyikan tangisannya mungkin.

Saya bisa merasakan penyesalannya yang luar biasa disana, tetapi segalanya sudah terlambat bukan..?!.

Saya benar benar marah, saya ingin teriak sekuatnya…. saya nggak rela Adik saya menjadi begini, saya ingin memaki dan menampar Yanthi…. saya ingin memarahinya dengan segala sumpah serapah, saya ingin menuntutnya karena sia sia segala apa yang saya katakan dan lakukan selama ini, kalau hasilnya tetap seperti ini.

Saya berdiri dan melangkah kesebuah pohon akasia yang berdiri tegak disamping bangku, kutinju sekuat tenaga, melampiaskan kemarahanku, entah pada siapa.

Setelah beberapa saat melampiaskan kemarahanku, saya sadar…. tak ada gunanya lagi, toh segalanya sudah terjadi, Yanthi sudah tidak suci lagi.

Saya mendekatinya kemudian memeluknya dengan erat, Yanthi membalas pelukanku, tangisnya meledak didadaku, cukup lama saya membisu, kubiarkan Yanthi memuaskan tangisannya didadaku.

Tak kusadari ternyata airmata pun sudah mengalir diwajahku….. ternyata sayapun tak setegar yang saya kira selama ini.

Setelah cukup lama, sambil mengusap usap rambut dibelakang kepalanya, saya mengatakan pada Yanthi agar menerima kenyataan yang dia jalani, semuanya adalah hasil dari perbuatannya sendiri, tentunya harus menerima resikonya sendiri.

Yang penting sekarang adalah bagaimana kedepannya, agar dia bisa kembali menjalani kehidupan yang normal, karena menurut saya Homo dan Lesbianisme adalah kehidupan yang menyimpang dari Kodrat.

Saya juga berusaha menjelaskan pada Yanthi, bahwa ketergantungan atau ketagihan dengan Lesbianisme akan menyulitkan dirinya nanti bila kelak suatu saat dia akan menikah dan menjalani kehidupan berumah tangga.

Dengan tegas saya katakan dia harus meninggalkan kebiasaan buruknya itu, kalau perlu agar dia memulai untuk berinteraksi dengan Laki laki, memulai membuka diri pada Laki laki mungkin dengan perlahan akan bisa merubahnya, bahkan meninggalkan nya sama sekali.

Cobalah berpacaran dengan lelaki, kalau perlu coba bermesraan dengan Lelaki, agar kebiasaan itu bisa berubah kata saya padanya.

Saya sangat marah dan kaget setengah mati ketika Yanthi malah mengusulkan hal yang sungguh tidak saya duga sama sekali, dia mengusulkan agar dia melakukan hubungan sex dengan saya, untuk membuktikan kalau dia masih bisa menikmati hubungan dengan lelaki atau tidak.

Saya katakan, bahwa saya adalah lelaki yang normal dan tentunya butuh hubungan sex, sayapun bukanlah orang yang munafik yang sok alim untuk mengatakan bahwa saya Virgin, saya juga tidak menolak Sex before married, tetapi dengan Yanthi…?!

Yanthi sudah saya anggap Adik saya sendiri, meskipun selama ini orang orang selalu memandang sinis dan aneh pada kami bila kami berjalan bersama, saya yang mempunyai tinggi badan 189cm dengan Yanthi sekitar 160 an, sangat contras sekali.

Saya bilang pada Yanthi, kalaupun memang itu jalan yang harus ditempuhnya menurut dia, saya bukanlah orangnya, lebih baik cari orang lain saja.

Saya menyarankan padanya sebaiknya dia harus tekun kembali pada kegiatan Pengajian yang dulu selalu diikutinya, yang kini sudah lama ditinggalkannya, mudah mudahan dengan kegiatan itu dia akan bisa menyadari apa yang sebaiknya dilakukannya.

 

Kami berpisah setelah waktunya Yanthi harus pulang kerumah dimana dia bekerja, setelah terlebih dahulu saya mengisikan Vaucher Octopuss Card nya.

Saya berharap Adikku Yanthi bisa menemukan jalan keluar yang terbaik atas masalah yang dihadapinya, sampai hari ini, diapun tidak meneleponku, padahal saya memberikan nomor Hotel yang bisa dihubunginya, karena telepon satelit yang saya pakai akan terlalu mahal untuknya.

Saya pun nggak berusaha menghubunginya, saya pikir mungkin dia tidak membutuhkan saya lagi…..

 

Yanthi…. Abangmu ini akan selalu menyayangimu…. selalu siap membantumu… kalau kamu membutuhkan………

Read Full Post »

Jembatan baru yang hampir selesai pembangunannya...

Jembatan baru yang hampir selesai pembangunannya...

Photo yang saya ambil tiga tahun yang lalu....
Photo yang saya ambil tiga tahun yang lalu….
Jembatan baru yang menghubungkan Kowloon dan Lantau Island.. hampir selesai..
Jembatan baru yang menghubungkan Kowloon dan Lantau Island.. hampir selesai..

 

 

Hong Kong sudah seperti rumah sendiri bagi saya, seperti negara kesekian bagi saya yang saya anggap “Home”.

Karena saya sering dan cukup lama tinggal disini, banyak kenalan dan tentunya banyak kenangan yang pantas untuk diingat selalu.

Saya cukup familiar dengan daerah daerahnya, sampai ketempat tempat yang mungkin hanya orang orang local saja yang tau.

Kali ini cukup lama saya akan tinggal di Hong Kong, karena trip yang tadinya direncanakan saya harus ke Korea juga, dalam waktu yang hampir bersamaan, sehingga saya tidak bisa kesana, tugas ini diserahkan pada teman saya yang lain, kecuali bila ada hal hal yang mungkin tidak bisa diselesaikannya, mungkin saya akan membantu dengan melalui E-mail atau telepon, bila tidak bisa juga baru saya harus kesana untuk waktu yang singkat saja.

 

Banyak kemajuan dan perubahan yang saya lihat terjadi di Hong Kong, sepintas saja, dari balik kaca jendela MTR atau dari Bis yang membawa saya.

Sayang kesibukan saya yang sangat ketat, membuat saya belum sempat untuk berkeliling, bahkan hari Minggu pun saya harus bekerja.

Diantara perubahan itu adalah harga harga di Hong Kong yang semakin mahal sekali, termasuk bahan bahan makanan di restorant.

Salah satu contoh, saya selalu makan di Padang restaurant di Causewaybay, salah satu Restaurant Indonesia yang terbaik di Hong Kong, menurut saya setelah mencoba puluhan restaurant lainnya.

Biasanya saya membayar antara HKD 250 sampai HKD 300 untuk order standard saya yaitu : Gulai Kambing, Cah Kangkung belachan, nasi putih, es cendhol, tahu telor, Minggu kemarin dengan order yang sama saya membayar HKD 420 (Kurs sekarang 1HKD = IDN Rp 1350).

Harga harga barang electronik pun cukup mahal dibandingkan dengan eropah sekalipun.

Entah mengapa ketika saya check di toko toko, rata rata Laptop disini hanya menggunakan 2GB DDR memory, dengan OS Windows XP.

Sangat ketinggalan dengan di USA yang rata rata menggunakan 4GB memory dengan OS Windows Vista Prof. Atau Expansion.

Harga laptop dengan 4Gb memory dan 320GB Hard drive OS Windows Vista Prof. merk HP/Compaq di USA adalah USD 700,- atau sekitar HKD 4900,- .

Ketika saya check disini dengan 2GB memory dan OS WXP, harganya HKD 8000 an.

 

Perubahan lainnya adalah semakin banyaknya gedung gedung tinggi yang baru dan semakin sesaknya jalanan.

 

Sementara orang orang Indonesia di hong Kong (TKW) semakin banyak yang menjadi Lesbi, yang dengan terang terangan dimana mana didepan umum mengekspresikan kasih sayang mereka dengan berpelukan dan berciuman ditaman taman umum.

Saya nggak pada posisi mengatakan apa yang mereka lakukan benar ataupun salah, saya nggak mau menghakimi mereka, terserah masing masing memilih apa yang terbaik menurut mereka, saya hanya ingin menyampaikan apa yang saya lihat disini.

 

Bangunan jembatan baru yang menghubungkan Lantau Island dan Kowloon, sudah semakin mendekati rampung, mungkin ahir tahun ini akan mulai dibuka untuk umum.

Jembatan ini menghubungkan Kowloon – Kwai chung – Lantau Island – Cheung Tsing Tunnel – Tsing Yi – Tsing Ma bridge kemudian menuju Tai po dan Shenzen China.

Sejak mulainya proyek ini saya mengikuti perkembangannya, karena memang sangat dekat dengan tempat saya bekerja, yaitu disekitar Lai King, tepatnya di Modern Terminal.

Kesibukan sehari hari yang membuat saya tidak mampu membagi waktu untuk Blog walking dan meng up date Blog ini, maafkan saya……

Read Full Post »